Daftar Isi
Pertumbuhan ekonomi India dinilai kian rapuh akibat melemahnya indikator ketenagakerjaan dan tekanan faktor eksternal. Berdasarkan data Periodic Labour Force Survey (PLFS), tingkat pengangguran nasional berada di kisaran 5 persen dan cenderung stagnan dalam beberapa kuartal terakhir.
Dinamika Penurunan Angka Pengangguran
Centre for Monitoring Indian Economy (CMIE) mencatat angka pengangguran yang lebih tinggi 2 persen hingga 3 persen dibandingkan data PLFS. Mengutip laporan Financial Express pada Minggu (1/11/2026), dinamika di balik angka utama CMIE justru mengkhawatirkan karena tingkat penganggurannya turun dari 7,3 persen pada Januari menjadi 3,99 persen pada September.
Menurut laporan tersebut, penurunan angka pengangguran terjadi di tengah menyusutnya total lapangan kerja, jumlah angkatan kerja, dan tingkat partisipasi kerja. Kondisi ini menunjukkan bahwa banyak pencari kerja sudah putus asa dan memilih keluar dari pasar tenaga kerja.
Data PLFS mencatat pengangguran pada kelompok usia 15 hingga 29 tahun mencapai 15 persen sampai 16 persen atau jauh di atas rata-rata nasional. Indikator Purchasing Managers’ Index (PMI) periode Oktober memperlihatkan penyerapan tenaga kerja melambat ke titik terendah sepanjang tahun 2026, sementara sektor jasa stagnan usai mengalami ekspansi selama sembilan bulan berturut-turut.
Tantangan Struktural dan Sektor Informal
Statistik resmi ketenagakerjaan dinilai menyembunyikan realitas distress employment seperti pengangguran terselubung di sektor pertanian, pekerja harian lepas, serta pekerja mandiri demi bertahan hidup. Aspirasi dari 7 juta hingga 8 juta angkatan kerja baru setiap tahunnya belum terfasilitasi secara maksimal, sementara sebagian dari mereka berhenti mencari kerja.
Intensitas modal yang tinggi, migrasi balik tenaga kerja ke pedesaan, dan stagnasi upah riil memperkuat kekhawatiran terjadinya pertumbuhan tanpa penyerapan tenaga kerja atau jobless growth. Pasar tenaga kerja perkotaan menghadapi tekanan struktural akut karena sektor informal masih menyerap lebih dari 85 persen tenaga kerja tanpa jaminan perlindungan sosial.
Peluang kerja bergaji tinggi hanya terkonsentrasi di bidang keuangan dan teknologi informasi. Sebagian besar pertumbuhan sektor jasa didominasi oleh pramusaji retail, jasa pengiriman, serta transportasi lokal yang menampung sekitar 190 juta pekerja, berbanding jauh dengan manufaktur terorganisir yang hanya menyerap 27 juta orang.
Sistem Kontrak dan Kesenjangan Keterampilan
Pekerja kontrak mencakup 42 persen dari total tenaga kerja di sektor manufaktur terorganisir. Di sisi lain, lonjakan pekerja lepas atau gig worker diproyeksikan melonjak dari 10 juta pada periode 2024–2025 menjadi 23,5 juta pada 2029–2030 tanpa kepastian karier jangka panjang.
Perkembangan kecerdasan buatan, teknologi digital, dan industri hijau mengubah peta kebutuhan keterampilan, namun program pelatihan belum mampu mengejar ketertinggalan tersebut. Pemerintah India telah meluncurkan berbagai program seperti PM Internship Scheme, Employment Linked Incentive Scheme, National Apprenticeship Promotion Scheme, serta modernisasi lembaga pelatihan vokasi ITIs.
Hasil dari inisiatif tersebut masih terbatas akibat kendala anggaran, kelemahan desain program, serta minimnya partisipasi dunia industri. Sinergi yang kuat antara pelaku usaha dan penyedia pelatihan menjadi kunci agar lulusan program dapat terserap dengan baik.
Urgensi Anggaran dan Kenaikan Upah
Anggaran Negara atau Union Budget mendatang harus memprioritaskan penciptaan jutaan lapangan kerja berupah layak dengan tetap memberikan insentif investasi dan kewirausahaan. India membutuhkan lapangan kerja kerah biru berbasis teknologi yang berdampingan dengan penyerapan tenaga kerja produktif di sektor manufaktur serta jasa tradisional.
Pemerintah didorong untuk membenahi pelatihan vokasi, mendorong investasi padat karya, serta membantu UMKM berkembang tanpa terbebani aturan yang rumit. Menteri Keuangan Nirmala Sitharaman menyatakan bahwa fase pertumbuhan konsumsi berikutnya sangat bergantung pada kenaikan upah riil yang kuat guna memperkuat daya beli rumah tangga dan keyakinan dunia usaha.
Tanpa perbaikan pendapatan dan kualitas lapangan kerja secara merata, pertumbuhan ekonomi utama India berisiko kehilangan momentumnya.








