Pelapor pelanggaran atau whistleblower Theranos, Tyler Shultz, memperingatkan bahwa era kecerdasan buatan atau AI merupakan peluang besar untuk melakukan penipuan. Peringatan ini muncul di tengah tingginya perhatian publik terhadap dokumenter terbaru mengenai pendiri Theranos, Elizabeth Holmes.
Pelajaran dari Kasus Theranos dan Bahaya Era AI
Film dokumenter berjudul “You Can See Everything” yang disutradarai oleh Nathan Fielder dan Lance Oppenheim menangkap minggu-minggu terakhir Elizabeth Holmes sebelum masuk penjara. Shultz, yang merupakan mantan karyawan dan pelapor kunci kasus alat tes darah palsu Theranos, menyatakan kepada The San Francisco Standard bahwa perhatian publik saat ini memang diinginkan oleh Holmes sendiri, seperti dilaporkan oleh TechCrunch.
Theranos sempat mencapai valuasi puncak sekitar 10 miliar dolar AS meskipun teknologinya tidak pernah berfungsi dengan baik. Perusahaan tersebut menggunakan mesin buatannya sendiri untuk sebagian kecil tes dan mengalihkan sisanya ke peralatan pihak ketiga, serta membahayakan pasien nyata dengan hasil tes yang salah.
Shultz menilai kisah Theranos kini memiliki makna baru di tengah puncak era AI, ketika perusahaan-perusahaan yang belum pernah meraup keuntungan berhasil menggalang modal dengan valuasi triliunan dolar. Menurut Shultz, para investor perlu menyadari bahwa menyerahkan dana besar kepada seseorang memberikan kekuatan yang luar biasa.
Kesulitan Melakukan Uji Tuntas pada Teknologi AI
Pada masa penipuan Theranos terbongkar, kasus tersebut dianggap sebagai peringatan keras agar investor memprioritaskan uji tuntas. Namun, di era AI, Shultz khawatir para investor akan melupakan pelajaran tersebut karena teknologi ini sangat sulit untuk diuji secara mendalam.
Shultz menjelaskan bahwa sangat sulit membedakan antara inovasi yang benar-benar unik dengan produk tiruan sederhana seperti pembungkus ChatGPT. Menurutnya, jika seseorang berniat untuk menipu, era saat ini menyediakan kesempatan yang sangat besar untuk melakukannya.
Dalam film dokumenter tersebut, Holmes dan pasangannya, Billy Evans, terlihat tengah merintis perusahaan diagnostik baru bernama Haemanthus yang dijuluki sebagai Theranos 2.0 dan dikabarkan telah mengumpulkan pendanaan sekitar 20 juta dolar AS. Shultz mengungkapkan rasa gelisah mengenai langkah lanjutan Holmes dan tidak mengetahui ke mana arah tindakan selanjutnya dari pendiri Theranos tersebut.







