Daftar Isi
Pengelola bursa kripto Binance membekukan sementara aset kripto karena terindikasi terkena serangan siber. Perusahaan menduga kelompok peretas dari Korea Utara berada di balik aksi tersebut.
Hasil Investigasi Awal Peretasan Binance
Binance menyatakan bahwa mereka mulai memulihkan aset yang terdampak. Perusahaan juga terus bekerja sama dengan aparat penegak hukum serta perusahaan intelijen blockchain untuk melacak dana hasil pencurian lainnya.
Hasil investigasi awal menunjukkan bahwa peretasan tersebut kemungkinan berasal dari laptop milik seorang insinyur. Kondisi ini memungkinkan pelaku mengakses wadah layanan dan mengirimkan transaksi penarikan tanpa izin.
Seperti dilaporkan CNN, sejumlah perusahaan pelacak transaksi kripto menemukan indikasi bahwa serangan tersebut berasal dari Korea Utara berdasarkan bukti yang ditemukan di blockchain.
Temuan Perusahaan Pelacak Kripto
Perusahaan pelacak transaksi kripto TRM Labs mengaitkan pencurian tersebut dengan kelompok hacker elite Korut berdasarkan intelijen on-chain dan off-chain yang kuat. TRM Labs juga menyebutkan bahwa sejumlah karakteristik serangan itu memiliki kemiripan dengan aksi peretasan sebelumnya yang dikaitkan dengan Korea Utara.
Pangolin Intelligence, perusahaan pelacak blockchain yang berbasis di Singapura, turut meyakini bahwa unit peretas Korut merupakan dalang serangan tersebut. Seorang analis Pangolin Intelligence mengungkapkan bahwa kesimpulan itu diperoleh setelah menganalisis aktivitas transaksi di blockchain dan membandingkannya dengan informasi dari sejumlah insiden sebelumnya.
Analis tersebut memperkirakan pihak Korut akan memanfaatkan jaringan organisasi pencucian uang untuk mengubah aset kripto hasil pencurian menjadi uang yang dapat digunakan. Sementara itu, perusahaan pelacak kripto Chainalysis menyatakan sedang memantau pergerakan dana hasil pencurian yang berpindah melalui sejumlah jaringan blockchain seperti Bitcoin dan Ethereum, serta meyakini Korut berada di balik serangan itu.
Tanggapan Pihak Berwenang
CNN telah menghubungi perwakilan Korea Utara di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk meminta tanggapan, di mana Pyongyang sebelumnya telah membantah tuduhan keterlibatan dalam berbagai aksi peretasan.
Di sisi lain, FBI turut memonitor kasus ini dan menyatakan mengetahui insiden tersebut. FBI sedang bekerja sama dengan mitra terkait dari sektor pemerintah maupun swasta untuk memahami cakupan aktivitas, mengevaluasi potensi dampak, serta mengoordinasikan langkah-langkah investigasi yang diperlukan.
Peretas Korea Utara sebelumnya juga dituding sebagai pelaku pencurian kripto terbesar yang tercatat sebelum insiden Binance. Pada Februari 2025, mereka diduga mencuri aset senilai US$1,5 miliar dari Bybit dalam hitungan menit, di mana kelompok peretas tersebut dikenal memiliki kemampuan tinggi dan menjadi sumber pemasukan penting bagi negara yang tengah menghadapi sanksi internasional itu.







