Daftar Isi
Konflik bersenjata antara Iran dan Amerika Serikat beserta sekutunya memicu dampak buruk terhadap lingkungan di kawasan Teluk Persia. Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa tingkat pencemaran minyak di perairan tersebut melonjak hingga dua kali lipat sejak peperangan bergejolak, mengancam ekosistem laut dan sumber air minum jutaan warga.
Serangan militer yang menyasar berbagai fasilitas dan infrastruktur minyak menyebabkan kebakaran hebat, memuntahkan asap hitam pekat serta hujan bercampur minyak di wilayah Teheran. Selain memaparkan polusi berbahaya bagi kesehatan masyarakat dalam jangka panjang, ledakan bom dan rudal juga melepaskan bahan kimia beracun serta logam berat ke udara, sebagaimana dilaporkan CNN Indonesia.
Tumpahan Minyak Memanjang Ratusan Kilometer
Dampak pertempuran turut memicu insiden tumpahan minyak yang cukup parah hingga terlihat dari citra satelit luar angkasa. Kementerian Perubahan Iklim dan Lingkungan Uni Emirat Arab mencatat salah satu tumpahan terdeteksi berasal dari kapal tanker di wilayah Emirat Umm Al Quwain, meski keterkaitannya dengan serangan Iran masih dalam pemeriksaan otoritas setempat.
Ancaman terhadap jalur pelayaran vital semakin meningkat seiring intensifnya serangan terhadap kapal kargo dan tanker di Selat Hormuz, penghubung utama antara Teluk Persia dan Teluk Oman. Brian Barnes, pakar oseanografi satelit dari University of South Florida, menjelaskan bahwa dampak kerusakan lingkungan akibat insiden kapal terlihat amat jelas dari pengamatan udara.
“Pada beberapa kapal besar yang menjadi sasaran, kami melihat jejak tumpahan yang terus memanjang hingga ratusan kilometer dari lokasi serangan,” kata Barnes dikutip dari CNN pada Rabu (23/10).
Berdasarkan analisis perbandingan antara data Maret 2026 dan periode serupa pada tahun sebelumnya, Barnes memperkirakan volume minyak di permukaan air Teluk Persia melonjak tajam akibat konflik bersenjata.
“Apa yang kami lihat adalah dua kali lipat jumlah minyak permukaan di area Teluk Persia dibandingkan dengan yang kami perkirakan jika tidak ada konflik besar,” ujar Barnes. Meski demikian, ia menambahkan bahwa citra satelit hanya mendeteksi keberadaan minyak di permukaan air dan belum mengukur tingkat ketebalannya secara terperinci.
Karakteristik Geografis Memperparah Pencemaran
Kondisi geografis Teluk Persia semakin memperburuk dampak polusi karena wilayah perairannya relatif dangkal dengan kedalaman maksimal sekitar 110 meter atau 360 kaki, serta mencakup luas wilayah 241.000 kilometer persegi atau 93.000 mil persegi. Selain itu, Selat Hormuz menjadi satu-satunya jalur keluar-masuk perairan menuju Teluk Oman dan Samudra Hindia, sehingga zat pencemar sangat sulit terurai atau menyebar keluar secara alami.
Profesor dari Nova Southeastern University, Bernhard Riegl, menerangkan bahwa dampak pencemaran akan meluas ke berbagai negara di kawasan tersebut tanpa memandang target serangan awal.
“Jika kita mengambil setetes minyak dan memasukkannya ke perairan di sisi Iran, tempat air masuk ke Teluk Persia, setahun kemudian minyak itu akan berada di Kuwait. Dua tahun kemudian, minyak itu akan berada di sisi Teluk Persia yang berbatasan dengan Oman dan mengapung ke luar,” kata Riegl.
Riegl mengingatkan bencana Perang Teluk 1991 sebagai contoh nyata, ketika pembakaran ratusan sumur minyak di Kuwait oleh pasukan Irak yang mundur meninggalkan sisa minyak yang tersimpan di dalam pasir pantai Arab Saudi hingga saat ini.
“Garis pantai terdampak dengan sangat parah. Bahkan, di banyak wilayah Arab Saudi, jika Anda menggali pasir, masih ada sisa minyak lama di dalamnya. Minyak itu memang sangat sulit dihilangkan,” tutur Riegl.
Ancaman Fasilitas Desalinasi dan Ekosistem Laut
Pencemaran minyak yang meluas mengancam keberlangsungan instalasi desalinasi yang menjadi tumpuan air minum bagi puluhan juta penduduk. Enam negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) memproduksi sekitar sepertiga air desalinasi dunia, dengan negara seperti Bahrain dan Kuwait yang bergantung sepenuhnya pada fasilitas tersebut. Kerusakan fasilitas akibat tumpahan minyak berisiko melumpuhkan pasokan air, layaknya peristiwa Perang Irak ketika Kuwait harus mendatangkan bantuan air bersih menggunakan truk dan tanker dari Arab Saudi.
Di samping mengganggu pasokan air, polusi ini merusak kawasan riset perubahan iklim global. Teluk Persia dikenal memiliki fluktuasi suhu ekstrem, mulai dari 36 derajat Celsius pada puncak musim panas di Kota Kuwait hingga turun ke 16 derajat Celsius. Suhu perairan yang tinggi dianggap menggambarkan kondisi perairan tropis dunia pada tahun 2100, sehingga menyimpan adaptasi genetik biota laut yang amat bernilai.
“Jika kita ingin mengetahui seperti apa kondisi laut secara umum pada akhir abad ini. Teluk Persia adalah kawasan yang perlu diamati,” jelas Riegl.
Kawasan ini juga menjadi habitat kaya biodiversitas, termasuk penyu, ratusan jenis ikan, populasi dugong terbesar kedua di dunia, hingga keberadaan hiu paus di sekitar ladang minyak South Pars di perbatasan Qatar dan Iran.
“Salah satu kumpulan hiu paus terbesar di dunia dekat ladang minyak South Pars, di kawasan perbatasan Qatar dan Iran,” kata Riegl.
Terumbu karang, padang lamun, hutan bakau, dan pulau berpasir di Teluk Persia menjadi tempat berlindung serta berkembang biak bagi lumba-lumba dan burung laut. Sayangnya, eskalasi militer pada musim semi bertepatan dengan masa berkembang biak satwa-satwa tersebut, sementara akses peneliti untuk memantau dampak kerusakan secara fisik terhalang oleh konflik.
Mengenai bahaya kerusakan jangka panjang, Utusan Khusus Uni Emirat Arab untuk Urusan Alam dari Kementerian Luar Negeri, Razan Khalifa Al Mubarak, sebelumnya telah menyerukan penghentian aksi militer di Teluk Persia.
“Meski biaya finansial akibat kerusakan dapat dihitung, hilangnya ekosistem dan spesies tidak dapat diukur dengan cara yang sama. Setelah mengalami kerusakan, sistem-sistem ini mungkin tidak akan pulih,” tulis Razan dalam opini resminya pada awal tahun ini.







