Sebagian wilayah Jawa Timur, termasuk Kota Surabaya, diguyur hujan serta diselimuti cuaca mendung dalam kurun waktu dua hari terakhir. Kendati demikian, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa turunnya air hujan tersebut sama sekali bukan menandakan peralihan menuju musim penghujan.
Hasil Operasi Modifikasi Cuaca
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda Sidoarjo, Taufiq Hermawan, menyatakan bahwa periode kemarau panjang saat ini masih berlangsung di Jawa Timur. Hujan yang turun di berbagai daerah murni disebabkan oleh upaya rekayasa cuaca yang dilakukan pemerintah.
Menurut Taufiq, seperti dilaporkan CNN Indonesia, pelaksanaan hujan buatan ini dijalankan melalui beberapa kali penerbangan dengan rute khusus yang menargetkan kawasan-kawasan tertentu. Jalur penerbangan tersebut secara spesifik diarahkan menuju wilayah Sidoarjo, Probolinggo, serta sebagian Pasuruan, yang kemudian memicu turunnya hujan di titik-titik tersebut.
Wilayah Sasaran dan Prakiraan Kemarau
Di luar kawasan-kawasan itu, pelaksanaan operasi modifikasi cuaca juga sudah menjangkau daerah Malang serta sebagian wilayah Bondowoso. Di sisi lain, kawasan Mataraman hingga saat ini belum menjadi sasaran dari kegiatan tersebut.
Taufiq menambahkan, kegiatan rekayasa cuaca ini merupakan kolaborasi antarlembaga yang bertujuan mendatangkan hujan pada wilayah-wilayah yang mengalami krisis air. Operasi ini melibatkan tim gabungan dari BMKG, BRIN, serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi.
Lebih lanjut, BMKG memperkirakan musim kemarau di Jawa Timur akan berlangsung lebih lama akibat dampak kuat dari fenomena El Nino. Berdasarkan hasil pemetaan mutakhir, sebanyak 68 dari total 74 zona musim atau sekitar 90,6 persen wilayah di Jawa Timur baru akan mulai memasuki musim hujan pada rentang waktu Desember hingga Februari 2027.







