Laporan Consumer Navigator terbaru dari Liputan6.com Ekonomi melalui jaringan periklanan dan pemasaran Dentsu menemukan bahwa konsumen di Asia-Pasifik (APAC) sebenarnya memiliki daya tahan finansial yang kuat. Meskipun demikian, ketidakpastian yang terus membayang membuat masyarakat kian berhati-hati dalam membelanjakan uang.
Pergeseran Keyakinan Ekonomi dan Keuangan
Riset kuartalan tersebut memantau tren sentimen serta perilaku konsumen di wilayah APAC dengan melibatkan 2.500 konsumen di Australia, China, India, Jepang, dan Korea Selatan pada kuartal ketiga. Studi Consumer Mindset mencatat sebanyak 6 dari 10 konsumen atau 61 persen sanggup memenuhi kebutuhan bulanan mereka secara nyaman, namun kurang dari separuh atau 49 persen yang menilai kondisi ekonomi sedang dalam keadaan baik.
Angka tersebut menandai pergeseran dari rasa optimis yang sebelumnya sempat tinggi, di mana tingkat keyakinan terhadap ekonomi kini memengaruhi perilaku belanja sama besarnya dengan kemampuan finansial. Pada kuartal kedua, sebanyak 54 persen konsumen melihat kondisi ekonomi secara positif dan 37 persen berharap keuangan pribadi mereka membaik, sebelum akhirnya merosot masing-masing menjadi 49 persen dan 31 persen pada kuartal ketiga.
Kesenjangan pandangan ini terlihat jelas antar-generasi dalam laporan yang dikutip dari riset Dentsu, Selasa (27/10/2026). Generasi Z menjadi kelompok yang paling optimis dengan 59 persen menilai ekonomi dalam kondisi baik atau sangat baik, tetapi secara finansial mereka paling rentan karena hanya 56 persen yang kebutuhan bulannya terpenuhi secara nyaman. Sebaliknya, generasi Boomers menunjukkan pola bertolak belakang di mana 73 persen sanggup memenuhi kebutuhan bulanan dengan nyaman, tetapi hanya 39 persen yang menilai ekonomi dalam kondisi baik.
Pola Konsumsi dan Tren Berhemat
Sikap penuh kehati-hatian tersebut berdampak langsung pada pola konsumsi, di mana dari 17 kategori yang diukur, sebanyak 16 kategori menunjukkan lebih banyak konsumen yang memangkas pengeluaran atau menunda pembelian. Pembelian bahan bakar minyak mengalami penurunan paling tajam, diikuti oleh sektor kuliner restoran, barang mewah, serta aktivitas pengalaman yang turut merosot.
Pengeluaran harian dipilih secara lebih ketat dengan hampir sepertiga konsumen atau 31 persen beralih ke opsi kebutuhan pokok yang lebih murah dalam sebulan terakhir, naik dari 22 persen pada kuartal kedua. Di sisi lain, hanya 10 persen konsumen yang bersedia merogoh kocek lebih dalam untuk membeli produk kebutuhan pokok premium, sementara perilaku berhemat serupa juga terlihat pada kategori pakaian, produk kecantikan, hingga tempat makan.
Tingkat kepercayaan terhadap ekonomi tercatat paling kuat di China dan India dengan lebih dari 7 dari 10 konsumen memandang ekonomi secara positif, sementara Jepang dan Korea Selatan menunjukkan persentase pemenuhan kebutuhan yang setara dengan India tetapi kurang dari sepertiga yang menilai ekonomi positif. Australia menjadi pasar dengan tekanan finansial terbesar dalam riset karena hanya 46 persen yang merasa kebutuhan bulannya tercover dengan nyaman, yang menegaskan perlunya penyesuaian pesan pemasaran bagi setiap negara.






