KEUANGAN

Dampak Kerusuhan Prancis: 2.000 Bisnis Terpukul, Utang Melonjak

Dampak Kerusuhan Prancis: 2.000 Bisnis Terpukul, Utang Melonjak

Gelombang demonstrasi dan kerusuhan yang melanda Prancis memicu kekhawatiran pelaku pasar karena berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi serta mengganggu target penghematan anggaran. Pasar merespons situasi ini dengan kecemasan setelah biaya utang pemerintah melonjak ke level tertinggi sejak tahun 2002.

Peringkat Kredit dan Lonjakan Biaya Utang

Lembaga pemeringkat Moody’s memutuskan mempertahankan peringkat kredit Prancis pada level Aa3 per Jumat lalu dengan memberikan prospek negatif. Dalam laporan resminya, Moody’s menyatakan bahwa perpecahan lanskap politik terus mengganggu kinerja lembaga legislatif. Prospek kredit baru dapat kembali stabil apabila pemerintah bersama parlemen berhasil memangkas defisit anggaran.

Tekanan di pasar modal terlihat dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Prancis bertenor 10 tahun sebesar 11 basis poin pada Kamis. Selisih imbal hasil antara obligasi Prancis dan Jerman bertenor 10 tahun juga melebar ke tingkat tertinggi sejak November 2011, yang menunjukkan investor meminta kompensasi risiko lebih tinggi untuk memegang surat utang Prancis.

Kepala Riset Ekonomi EMEA di Natixis CIB, Alain Durre mengatakan pemerintah berusaha keras menahan lonjakan biaya tersebut dengan mengunci target anggaran melalui Pasal 49.3 Konstitusi Prancis atau menerbitkan peraturan eksekutif. Sementara itu, Kepala Strategi Pasar Ebury, Matthew Ryan berpendapat bahwa pengesahan anggaran 2027 masih sangat samar dan dipenuhi kompromi politik yang membuat masalah defisit tidak tuntas. Pemerintah sendiri memasang target defisit turun menjadi 5 persen PDB pada 2027 dari proyeksi 5,4 persen pada 2026, meski rencana ini mendapat penolakan kuat di parlemen.

Dampak ke Sektor Ritel dan Barang Mewah

Di sektor riil, jaringan Kamar Dagang Prancis mencatat lebih dari 2.000 perusahaan telah merasakan dampak langsung dari kerusuhan tersebut hingga Selasa lalu. Ekonom senior ING, Charlotte de Montpellier menyebutkan bahwa demonstrasi memperburuk prospek ekonomi yang lesu dengan proyeksi pertumbuhan PDB Prancis hanya 0,3 persen pada 2026 dan 0,6 persen pada 2027.

Sektor ritel, perhotelan, pariwisata, dan logistik menjadi bidang yang paling rentan. Saham raksasa ritel Carrefour ambles lebih dari 14 persen pada Rabu setelah memangkas target laba akibat penurunan belanja konsumen dan tingginya biaya energi, di mana CEO Carrefour Alexandre Bompard menyebut situasi ini sebagai krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya. Industri barang mewah seperti LVMH turut terancam akibat penurunan kunjungan turis asing.

Penasihat portofolio di Carmignac, Kevin Thozet menjelaskan bahwa belanja turis asing lewat transaksi bebas pajak menyumbang hingga 20 persen dari total pendapatan LVMH di Prancis. Tambahan waktu enam bulan tanpa kepastian politik dinilai sangat menyiksa bagi pasar, perekonomian, serta para pelaku usaha.

Mungkin Anda Suka