Daftar Isi
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan memunculkan miliarder baru, salah satunya Daniel Nadler yang merupakan salah satu pendiri platform pencari AI OpenEvidence untuk membantu dokter mengambil keputusan klinis. Berdasarkan catatan Forbes pada Minggu (25/10), total kekayaan Nadler mencapai US$7,6 miliar atau sekitar Rp137,5 triliun dengan asumsi kurs Rp18.093 per dolar AS.
Perjalanan Karier dan Kensho Technologies
Daniel J Nadler lahir di Toronto, Kanada, pada 3 Juni 1983 dari ayah imigran asal Rumania yang bekerja sebagai insinyur dan ibu imigran asal Polandia. Selepas pendidikan menengah, Nadler menempuh studi S1 di Universitas Toronto dan melanjutkan program pascasarjana hingga meraih gelar PhD di bidang ekonomi politik di Universitas Harvard, di mana ia juga mendalami matematika dan sastra serta sempat menjadi sarjana tamu di The Federal Reserves Bank of Boston pada 2013.
Pengalaman bekerja di The Fed mendorong Nadler masuk ke dunia teknologi dengan mendirikan Kensho Technologies pada Mei 2013 setelah mendapati para analis keuangan di bank sentral masih menganalisis dampak kebijakan global secara manual. Seperti dilaporkan CNN Indonesia, perusahaan rintisan mesin pencari cerdas untuk analisis data keuangan tersebut sukses meningkatkan efisiensi kerja hingga akhirnya dijual kepada S&P Global senilai US$550 juta pada 2018.
Lahirnya OpenEvidence dan Valuasi Perusahaan
Pada 2022, Nadler bersama rekannya, Zachary Ziegler, membangun OpenEvidence yang berfungsi sebagai mesin pencari yang mengolah informasi khusus dari sumber medis terpercaya dan berlisensi. Platform yang kerap dijuluki sebagai ‘ChatGPT untuk Dokter’ ini dirancang untuk meringankan beban tenaga medis dalam mengambil keputusan klinis.
OpenEvidence terhubung dengan berbagai penerbit jurnal ilmiah serta institusi media terkemuka seperti NCCN Guidelines, The New England Journal of Medicine, hingga The Journal of the American Medical Association. Saat ini, platform tersebut telah digunakan oleh lebih dari 758 ribu dokter dengan penambahan sekitar 55 ribu pengguna setiap bulannya, di mana tenaga medis berlisensi dapat mengaksesnya secara gratis sementara pemasukan perusahaan diperoleh dari iklan.
Lonjakan valuasi perusahaan mengantar Nadler yang memegang kepemilikan saham sebesar 60 persen menjadi salah satu konglomerat global, di mana pada awal 2026 valuasinya ditaksir mencapai US$12 miliar usai menutup pendanaan Seri D senilai US$250 juta, naik dari US$6 miliar pada putaran pendanaan Seri C di bulan Oktober 2025.
Latar Belakang Sastra dan Aset Properti
Di sela kesibukannya memimpin perusahaan, Nadler yang memiliki ketertarikan pada bidang sastra sejak berkuliah di Harvard dan pernah dibimbing oleh penyair peraih Pulitzer Jorie Graham, aktif menulis puisi. Ia merilis buku puisi perdananya yang berjudul “Lacunae: 100 Imagined Ancient Love Poems” pada 2016 melalui penerbit Farrar, Straus and Giroux yang mendapat sambutan positif dari The Washington Post, serta pernah bertugas di dewan Academy of American Poets.
Saat ini, Nadler bertempat tinggal di sebuah griya tawang mewah kawasan Surfside, Florida, Amerika Serikat, dan dilaporkan memiliki sejumlah aset properti di wilayah Beverly Hills serta Malibu, California, Amerika Serikat.







