Daftar Isi
Ketenangan ekosistem digital global mendadak terguncang menyusul temuan celah keamanan siber kritis berjuluk PHP2Shell yang mengincar bahasa pemrograman PHP. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, model kecerdasan buatan tingkat lanjut berhasil mengidentifikasi kerentanan tersembunyi selama lebih dari satu dekade di dalam inti mesin PHP.
Ancaman Tingkat Puncak dan Cara Kerja Eksploitasi
Pakar Keamanan Siber dari Vaksincom, Alfons Tanujaya, menjelaskan bahwa celah keamanan tersebut berada di kategori puncak dengan skor 9,2 dari 10 dan terdaftar secara resmi dengan identifikasi CVE-2026-109618 serta CVE-2026-109619. Menurut Alfons kepada Liputan6.com pada Minggu (25/10/2026), celah ini memberikan izin bagi peretas untuk mengambil alih kendali server secara penuh tanpa memerlukan hak akses, nama pengguna, ataupun kata sandi.
Dalam operasinya, PHP bertindak sebagai ruang mesin dan dapur pengolah data utama sebuah layanan publik digital. Rangkaian celah PHP2Shell memungkinkan peretas menguasai area tersebut melalui manipulasi memori pada CVE-2026-109618 yang meruntuhkan benteng pertahanan sistem. Tahap berikutnya melalui CVE-2026-109619 memberikan hak akses tertinggi atau root kepada peretas untuk mengunduh, mengubah, hingga menghapus basis data internal secara total.
Versi PHP yang Terdampak Serta Risiko Jaringan Intranet
Dampak kerentanan ini menjangkau hampir seluruh versi PHP yang beredar, mulai dari versi 5.x, 7.x, 8.0, dan 8.1 yang sudah masuk kategori end of life serta tidak lagi mendapat pembaruan keamanan. Versi yang wajib segera di-patch meliputi 8.2.34, 8.3.35, 8.4.26, 8.5.11, beserta versi di bawahnya, sementara versi aman tercatat pada 8.2.35, 8.3.36, 8.4.27, dan 8.5.12.
Alfons menuturkan bahwa di balik satu situs web publik, biasanya terdapat empat sistem internal pendukung dalam jaringan intranet kantor di mana PHP versi lama banyak terpasang. Keengganan instansi memperbarui sistem demi menjaga stabilitas operasional justru berisiko menjadi bom waktu, sebab peretas dapat melakukan pergerakan lintas jaringan secara otomatis tanpa bantuan manusia apabila satu sistem berhasil disusupi.
Mitigasi Darurat dan Dilema Penghentian Layanan
Penyebaran detail eksploitasi di internet membuat peretas mampu menciptakan skrip serangan otomatis dalam hitungan menit, sedangkan tim IT memerlukan waktu lama untuk menulis ulang kode aplikasi lama yang tidak kompatibel. Langkah menonaktifkan sementara atau take down server serta layanan publik dinilai sebagai mitigasi darurat paling rasional untuk mencegah sistem dikuasai pihak tak bertanggung jawab.
Tindakan penghentian layanan sementara tersebut dinilai jauh lebih aman daripada membiarkan sistem kritis diacak-acak oleh ancaman luar maupun dari perangkat karyawan yang terinfeksi malware di dalam jaringan.
Sumber: Liputan6.com Tech News








