Kekayaan pendiri sekaligus CEO produsen baterai terbesar dunia Contemporary Amperex Technology (CATL), Robin Zeng, anjlok US$ 14,9 miliar atau sekitar Rp 269,2 triliun sejak Maret akibat merosotnya harga saham. Berdasarkan data Forbes yang dilansir Liputan6.com dari VnExpress, kekayaan Zeng kini susut menjadi US$ 38,3 miliar dari sebelumnya US$ 53,2 miliar.
Penyusutan kekayaan ini terjadi seiring kejatuhan harga saham CATL yang terdaftar di dua bursa sebesar 33 persen di Shenzhen dan 25 persen di Hong Kong. Penurunan tersebut mencakup kejatuhan lebih dari 12 persen di kedua pasar pada Rabu, yang menandai aksi penjualan terburuk dalam lebih dari setahun terakhir.
Laporan Kinerja Kuartal Ketiga
Aksi jual besar-besaran dipicu oleh laporan kinerja kuartal ketiga yang dirilis sehari sebelumnya dan dinilai mengecewakan investor. Laporan Bloomberg menyebutkan bahwa margin perusahaan menyempit di berbagai unit bisnis karena tingginya biaya bahan baku, pemberlakuan kembali pajak konsumsi dalam negeri, serta pengurangan insentif pengembalian pajak pertambahan nilai (PPN) ekspor.
Laba bersih CATL pada kuartal ketiga naik 14,5 persen secara year-on-year menjadi 21,2 miliar yuan atau setara Rp 57,4 triliun. Capaian ini melambat tajam dibandingkan pertumbuhan kuartal kedua yang mencapai 36,5 persen, sekaligus menjadi pertumbuhan terlambat dalam hampir dua tahun terakhir dan jauh di bawah proyeksi analis sebesar 41,2 persen.
Di sisi lain, pendapatan perusahaan meningkat 58,6 persen menjadi 165,2 miliar yuan atau sekitar Rp 447,4 triliun. Kendati naik tipis dari pertumbuhan 56,9 persen pada kuartal sebelumnya, angka tersebut masih berada di bawah ekspektasi pasar yang mematok proyeksi pertumbuhan sebesar 60,2 persen.
Tantangan Pasar dan Strategi Perusahaan
CATL selama ini mendominasi pasar global dengan menguasai 39,4 persen penggunaan baterai kendaraan listrik dalam delapan bulan pertama tahun ini serta melayani hampir seluruh produsen otomotif dunia. Namun, nilai pasarnya menyusut hingga separuhnya setelah mencapai titik puncak pada Mei lalu.
Tren penurunan harga saham semakin cepat dalam sebulan terakhir akibat kekhawatiran terhadap “de-CATLization,” yakni langkah sejumlah produsen mobil China yang mendiversifikasi pembelian komponen ke pesaing. Bahkan, beberapa pabrikan otomotif seperti Li Auto dan Xiaomi kini mulai memproduksi baterai kendaraan listrik secara mandiri.
Dalam konferensi telepon bersama para analis, pihak CATL menyatakan bahwa mereka tengah berkoordinasi secara aktif dengan para pelanggan guna memitigasi dampak perubahan aturan pajak tersebut. Perusahaan juga terus mengembangkan teknologi serta produk baru untuk menekan tekanan terhadap profitabilitas.
Pada hari yang sama, CATL memperkenalkan generasi terbaru baterai untuk truk berat dan mengumumkan rencana perluasan jaringan penukaran baterai. Pihak manajemen menegaskan bahwa prospek permintaan pasar terhadap kendaraan listrik tidak sepesimistis perkiraan pasar dan masih menyimpan potensi pertumbuhan yang kuat ke depan.
Sumber: Liputan6.com Ekonomi






