Lima miliarder Indonesia beserta keluarga kehilangan hampir US$ 57 miliar atau setara Rp 1.035 triliun dari total kekayaan bersih sejak Januari 2026. Berdasarkan laporan Liputan6.com Ekonomi, penurunan drastis ini terjadi seiring pasar saham Indonesia menghadapi potensi penurunan peringkat oleh lembaga pemeringkat indeks global, MSCI.
Penurunan Kekayaan Miliarder
Kelompok miliarder yang masuk dalam Bloomberg Billionaires Index tersebut memegang saham signifikan di sejumlah perusahaan publik Indonesia. Kekayaan bersih gabungan mereka tercatat sebesar US$ 128,15 miliar atau Rp 2.328 triliun pada 27 Januari, ketika MSCI pertama kali memperingatkan potensi reklasifikasi pasar Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 38 persen sepanjang 2026 di tengah aksi jual yang dipicu peringatan MSCI, demikian mengutip VnExpress International. Kondisi ini menjadikan Indonesia salah satu pasar saham dengan kinerja terburuk di dunia, membuat kekayaan gabungan lima miliarder tersebut merosot menjadi US$ 71,57 miliar atau Rp 1.300 triliun pada 22 Oktober 2026.
Pendiri raksasa petrokimia Barito Pacific, Prajogo Pangestu, menjadi salah satu yang paling terdampak dengan kehilangan lebih dari 60 persen kekayaannya. Meskipun demikian, ia tetap bertahan sebagai orang terkaya kedua Indonesia dengan kekayaan bersih sekitar US$ 15 miliar atau Rp 272,5 triliun. Tak lama setelah peringatan terbaru MSCI, regulator keuangan Indonesia mengumumkan rekor denda Rp 2,1 triliun terkait perdagangan di tiga perusahaan tercatat, di mana dua di antaranya terkait dengan Prajogo Pangestu.
Robert Budi Hartono yang mengendalikan Djarum Group dan memegang saham besar di Bank Central Asia mengalami penurunan kekayaan bersih sebesar 31 persen. Nilainya anjlok dari US$ 17,9 miliar menjadi US$ 12,4 miliar atau setara Rp 325,2 triliun menjadi Rp 225,3 triliun. Anggota keluarga Hartono lainnya turut kehilangan sekitar US$ 5 miliar atau Rp 90,8 triliun, sehingga total kekayaan keluarga ini turun menjadi US$ 23,61 miliar atau Rp 429 triliun.
Miliarder batu bara kelahiran Singapura, Low Tuck Kwong, mencatat kekayaan yang anjlok lebih dari separuh menjadi sekitar US$ 10,5 miliar atau Rp 190,8 triliun. Low bersama putrinya menjual 30,25 persen saham di perusahaan tambang andalannya, Bayan Resources, dengan diskon lebih dari 80 persen pada awal bulan ini. Sementara itu, pengusaha mi instan Anthoni Salim melihat kekayaan bersihnya turun US$ 4,7 miliar atau Rp 85,4 triliun, dan Tahir dari Mayapada Group kehilangan US$ 3,4 miliar atau Rp 61,7 triliun.
Sebelumnya, kekayaan gabungan para miliarder tersebut sempat mencatat kenaikan hampir dua kali lipat dari US$ 76,47 miliar pada 2022 menjadi US$ 134,72 miliar pada akhir 2025, atau Rp 1.389 triliun menjadi Rp 2.448 triliun. Penurunan tajam tahun ini pun menghapus seluruh kenaikan yang telah dicapai selama tiga tahun terakhir. Aset Sukanto Tanoto turut menyusut sebesar US$ 2 miliar atau Rp 36,3 triliun, meski ia dikecualikan dari penghitungan utama karena hartanya sebagian besar terikat pada perusahaan tidak tercatat, Royal Golden Eagle, dengan kekayaan bersih saat ini sebesar US$ 21 miliar atau Rp 381,6 triliun.
Upaya Stabilisasi Pasar
MSCI sebelumnya menyebut aturan pengungkapan pemegang saham di Indonesia berpotensi mengaburkan kepemilikan sebenarnya dari perusahaan tercatat, sehingga melemahkan transparansi pasar dan meningkatkan risiko aktivitas perdagangan yang tidak pantas. Sebagian besar perusahaan tercatat di Indonesia memang dikuasai erat oleh pendiri, keluarga, atau konglomerasi besar, yang menyisakan sedikit saham untuk diperdagangkan publik secara luas.
Meskipun Indonesia telah berupaya mengatasi kekhawatiran tersebut, penyedia indeks menyatakan bahwa langkah-langkah itu belum cukup dan memperingatkan potensi reklasifikasi langsung ke status standalone market. Peringatan ini memicu kekhawatiran larinya modal asing yang menyebabkan aksi jual serta penurunan tercuram pasar saham Indonesia dalam hampir 30 tahun terakhir. IHSG sejak itu berangsur pulih setelah diperkenalkannya sejumlah langkah seperti pengecualian saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi dari indeks acuan yang berlaku mulai 2 November mendatang.
Pasar saham Indonesia kini memiliki waktu hingga 30 April tahun depan untuk mengatasi seluruh kekhawatiran MSCI dan menghindari reklasifikasi, dengan keputusan akhir yang diperkirakan akan diumumkan paling lambat pada 30 Juni 2027.








