Daftar Isi
Pada 2001, musik populer didominasi oleh lagu-lagu seperti “Fallin'” dari Alicia Keys, “Ms. Jackson” karya Outkast, serta “Ride Wit Me” milik Nelly. Saat itu, masyarakat yang ingin mendengarkan musik di luar rumah harus mengandalkan pemutar CD portabel yang rentan terguncang, boombox, atau kaset racikan sendiri. Pilihan pemutar MP3 portabel seperti Diamond Rio atau Creative Nomad Jukebox memang sudah ada, namun keberadaannya masih belum menjadi pemandangan umum.
Inovasi yang Mengubah Industri Perangkat Portabel
Kondisi tersebut berubah ketika Apple merilis pemutar musik iPod perdana pada 10 November 2001 dengan harga mulai dari 400 dolar AS. Perangkat berupa cakram keras kecil berbalut plastik putih halus ini mampu menyimpan antara 1.000 hingga 2.000 lagu. Kehadirannya merintis jalan bagi era ponsel pintar dengan menjadikan perangkat elektronik portabel lebih taktil, mudah digunakan, serta mengedepankan informasi. Earbud putih yang menjadi perlengkapan bawaan perangkat tersebut dengan cepat menjadi simbol tren baru di kalangan pencinta musik.
Memperingati seperempat abad kehadiran pemutar musik revolusioner ini, perancang dan pengembangnya turut bernostalgia. Di situs resmi Apple Music, pengunjung yang membuka halaman eror 404 Not Found dapat menemukan tampilan interaktif iPod klasik lengkap dengan roda putar (scroll wheel) serta daftar lagu populer dari masa itu.
Kilas Balik Tony Fadell dan Tren Nostalgia Generasi Muda
Sosok kunci di balik terciptanya iPod adalah Tony Fadell, yang bergabung dengan Apple sebagai kontraktor sebelum akhirnya memimpin salah satu divisi produk paling sukses di perusahaan tersebut. Meski kini berfokus pada teknologi asisten kecerdasan buatan, Fadell menyempatkan diri mengenang proses pengembangan iPod melalui unggahan di akun LinkedIn miliknya.
Fadell menceritakan bahwa timnya membawa iPod dari tahap persetujuan hingga pengiriman produk dalam waktu kurang dari delapan bulan. Menurutnya, tidak ada waktu untuk melakukan penyempurnaan tanpa henti, sehingga mereka harus mengambil keputusan cepat, memercayai pengalaman yang dimiliki, dan fokus pada satu janji utama, yaitu menyajikan 1.000 lagu di dalam saku pengguna.
Meskipun membutuhkan beberapa generasi hingga melahirkan varian seperti Nano dan Touch untuk benar-benar mendominasi pasar, iPod klasik kini kembali diminati. Berdasarkan laporan Axios, pemutar MP3 dan iPod mengalami peningkatan popularitas di kalangan generasi muda melalui tren yang dinamakan “friction-maxxing”. Banyak di antara mereka memilih membawa pemutar musik fisik terpisah daripada terus-menerus melakukan penstriman lagu di ponsel pintar.
Pasar Kolektor, Modifikasi, dan Aplikasi Nostalgia
Maraknya tren nostalgia ini membuat harga iPod klasik melonjak. Di situs eBay, unit iPod yang masih berfungsi dengan baik dapat dijual dengan harga ratusan dolar AS. Sementara itu, unit orisinal yang belum pernah dibuka dari kemasannya dapat mencapai harga 25.000 hingga 60.000 dolar AS.
Bagi penggemar yang ingin memulihkan iPod rusak, kelompok Crowd Supply memperkenalkan metode penggantian papan induk untuk menghidupkan kembali perangkat lama. Berbagai proyek modifikasi perangkat keras iPod juga banyak dibagikan oleh komunitas di platform Hackaday. Bagi konsumen yang mengincar fungsi pemutar musik portabel tanpa label Apple, pemutar MP3 modern seperti Fosi Audio DAP Neo seharga 80 dolar AS, Shanling M0s, serta HiBy R4 berbasis Android masuk dalam daftar pemutar musik terbaik tahun 2026 versi CNET.
Bagi pengguna yang ingin menikmati sensasi menggunakan iPod tanpa harus membeli perangkat keras tambahan, pengalaman tersebut dapat diuji coba melalui aplikasi ponsel pintar. Aplikasi seperti RetroPod dan My Classic – Retro Console di iOS, atau ClassiPod di sistem operasi Android, dapat mengubah antarmuka pemutar musik di ponsel pintar menjadi mirip layar iPod klasik.
Sumber: News – CNET







