Pemerintah memperkuat langkah antisipasi untuk mengamankan stok dan menstabilkan harga pangan nasional jelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru), sekaligus memitigasi dampak fenomena cuaca El Niño serta gejolak ekonomi global. Berbagai strategi disiapkan mulai dari operasi pasar, kerja sama perdagangan antardaerah, pemantauan harga, hingga pengawasan distribusi guna memastikan kebutuhan masyarakat terpenuhi dan harga tetap terjangkau.
Koordinasi Lintas Kementerian
Langkah tersebut dibahas dalam Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) Bidang Pangan yang dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan di Jakarta, Senin (26/10). Zulkifli menegaskan bahwa perkembangan harga pangan menjadi perhatian utama pemerintah karena berdampak langsung terhadap daya beli masyarakat, di mana sejumlah komoditas terpantau relatif stabil sementara cabai merah dan cabai rawit masih mengalami tekanan harga.
“Menjelang Natal dan Tahun Baru, kita harus bersiap dari jauh-jauh hari agar punya cukup waktu untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan. Kita perkuat cadangan pangan pemerintah, siapkan persediaan logistik dan distribusi sebaik-baiknya,” ujar Zulkifli, seperti dilaporkan CNN Indonesia.
Ia menekankan pentingnya koordinasi lintas kementerian/lembaga dan pemerintah daerah untuk memastikan ketersediaan stok, kelancaran distribusi, serta kesiapan menghadapi peningkatan permintaan pada akhir tahun dan periode Ramadan berikutnya. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menambahkan dalam rapat tersebut bahwa stok beras nasional berada pada tingkat tertinggi sepanjang sejarah.
Langkah Konkret Penanganan Harga
Dalam Rakortas, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian memaparkan perkembangan harga sejumlah komoditas pangan berdasarkan pemantauan di kabupaten/kota. Berdasarkan data Kemendagri untuk minggu ketiga Oktober 2026, kenaikan harga masih terjadi di banyak daerah akibat gagal panen di beberapa wilayah sentra produksi cabai karena cuaca ekstrem dan kemarau panjang, sementara beras, daging ayam ras, serta telur ayam ras juga menjadi komoditas yang perlu terus dipantau. Di sisi lain, komoditas daging ayam ras dan bawang merah menunjukkan tren penurunan.
Untuk merespons kondisi tersebut, Kemendagri menjalankan sejumlah langkah konkret, di antaranya memfasilitasi perdagangan antardaerah untuk komoditas cabai merah, cabai rawit, daging ayam ras, dan telur ayam ras. Pemerintah daerah bersama Perum Bulog juga telah melaksanakan operasi pasar di 134 daerah yang mengalami kenaikan harga beras melalui penyaluran Beras SPHP, sementara lima tim Kemendagri dan Kementerian Pertanian diberangkatkan untuk mengecek 100 dari 339 daerah penerima bantuan benih, pupuk, dan sarana produksi pertanian.
Pemerintah juga mengantisipasi dampak cuaca melalui optimalisasi lahan, perbaikan irigasi, penggunaan benih tahan kekeringan, serta memperkuat distribusi Cadangan Beras Pemerintah (CBP). Selain itu, pemerintah membenahi disparitas harga telur ayam ras dengan menyiapkan dukungan bagi peternak kecil melalui pasokan pakan, termasuk jagung pakan lewat skema SPHP, serta merencanakan pembangunan pabrik tepung telur bersama BUMN.
Tekanan Harga Pangan Global
Data September 2026 dari FAO Food Price Index dan World Bank menunjukkan adanya tekanan harga pangan di sejumlah negara, di mana indeks pangan FAO menyentuh 136,0 poin atau yang tertinggi sejak November 2022. Kenaikan harga pangan global ini dipengaruhi oleh konflik geopolitik, kenaikan harga energi dan pupuk yang menambah biaya produksi pertanian, perubahan iklim serta fenomena El Niño, dan kebijakan pembatasan ekspor dari beberapa negara.
Tekanan tersebut berpotensi merambat ke negara pengimpor melalui kenaikan harga bahan baku, biaya logistik, dan nilai tukar. Oleh karena itu, penguatan produksi dalam negeri dan diversifikasi sumber pasokan menjadi bagian penting dari upaya menjaga ketahanan pangan.








