Pencapaian finansial berdasarkan tingkatan umur kerap beredar di media sosial, mulai dari kewajiban memiliki hunian pribadi sebelum usia 30 tahun hingga keharusan mengumpulkan tabungan bernilai Rp100 juta. Pendiri sekaligus Lead Financial Trainer QM Financial, Ligwina Hananto, mengkritik keras patokan nominal uang yang kerap dijadikan tolok ukur keberhasilan seseorang tersebut.
Tiga Aspek Penting Perencanaan Keuangan
Ligwina menegaskan bahwa target keuangan tidak sepantasnya diseragamkan hanya berpatokan pada kelompok usia. Menurutnya, kebutuhan maupun tanggung jawab finansial sangat bergantung pada fase kehidupan yang sedang dilalui tiap individu, seperti status pernikahan, keberadaan anak, hingga tanggungan cicilan rumah.
“Sebetulnya enggak ada tuh umur sekian harus apa, sekian harus apa. Semua orang punya life journey yang sangat spesifik, tailor-made per individunya,” ujar Ligwina dalam acara peringatan 23 tahun QM Financial dan peluncuran buku Belajar Finansial Bareng Semua di Jakarta, Minggu (1/11/2026).
Daripada terfokus pada jumlah tabungan di umur tertentu, Ligwina menyarankan masyarakat memperhatikan tiga aspek utama dalam perjalanan finansial. Pertama adalah kemampuan menghasilkan pendapatan melalui pengembangan keterampilan secara berkelanjutan.
“Kita harus lihat cara menghasilkan uangnya bagaimana. Skill orang itu harus bisa dia tarik bersama dia sepanjang hayatnya. Umur 20-an cara menghasilkan uang bagaimana, umur 30-an bagaimana, umur 40-an bagaimana, dan enggak berhenti,” jelaskannya.
Aspek kedua yakni akumulasi aset, yang bisa dimulai sejak usia 20-an dengan menyisihkan sebagian penghasilan hingga kelak mampu membangun aset produktif. Sementara aspek ketiga adalah perlindungan finansial berupa asuransi yang disesuaikan dengan kondisi kesehatan, umur, serta fase hidup seseorang.
Dampak Patokan Sosial terhadap Kesehatan Mental
Fenomena pembandingan capaian finansial di media sosial ini juga mendapat perhatian dari praktisi kesehatan mental dan mindfulness, Adjie Santosoputro. Ia menilai bahwa membandingkan kondisi diri sendiri dengan orang lain bukan satu-satunya jalan untuk memicu motivasi.
Adjie menjelaskan bahwa dorongan untuk maju sebenarnya bisa dibangun melalui sikap menyayangi diri sendiri atau self-compassion tanpa harus mengorbankan kondisi psikologis.
“Enggak, justru motivasi terbesar itu adalah self-compassion. Kalau selama ini kita mungkin dijejali dengan psikologi motivasi: ‘Kamu harus membandingkan diri dengan orang lain supaya kamu termotivasi.’ Seolah-olah cara kita termotivasi hanya satu caranya, yaitu dengan membandingkan. Tapi itu justru akan mengorbankan kesehatan mentalmu ketika kamu terus-menerus membandingkan,” kata Adjie pada kesempatan yang sama.
Ia menekankan bahwa setiap orang menghadapi tantangan serta fase hidup yang tidak sama, sehingga keberhasilan seseorang tidak wajar dijadikan standar untuk menilai perjalanan hidup orang lain.





