Daftar Isi
Harga saham induk usaha Google, Alphabet, merosot hampir 10 persen pada perdagangan Rabu waktu setempat. Penurunan tajam ini terjadi setelah perusahaan teknologi tersebut mengakui bahwa fitur pencarian berbasis kecerdasan buatan atau AI memberikan pemasukan yang lebih sedikit dibandingkan iklan pada mesin pencari konvensional.
Pendapatan Naik tetapi Monetisasi Lambat
Berdasarkan laporan keuangan kuartal III 2026 yang dilaporkan Reuters, Alphabet mencatatkan lonjakan volume pencarian tertinggi dalam lima tahun terakhir berkat adopsi fitur AI Mode yang didukung teknologi Large Language Model. Pendapatan Google dari lini bisnis pencarian secara nominal naik 12 persen secara tahunan menjadi US$63,25 miliar, namun angka tersebut melambat dari pertumbuhan 14,5 persen pada periode yang sama tahun lalu.
Chief Business Officer Alphabet, Philipp Schindler, menjelaskan bahwa perlambatan tersebut disebabkan oleh tingkat monetisasi yang masih rendah pada fitur AI Mode. Schindler berusaha menenangkan investor dengan menyatakan bahwa sebagian besar pencarian di AI Mode merupakan kueri cerobong atas atau upper funnel queries yang membuka peluang monetisasi baru seiring berjalannya waktu.
Sebagai langkah lanjutan, Google telah memperluas penayangan iklan di samping hasil pencarian AI Mode secara global setelah sebelumnya melakukan uji coba di pasar Amerika Serikat. Hingga kini, mesin pencari konvensional masih diandalkan sebagai penopang utama yang menyumbang hampir separuh dari total pendapatan kuartalan Alphabet sebesar US$125,8 miliar.
Belanja Modal Besar dan Tekanan Laba Bersih
Tingkat monetisasi AI yang rendah menjadi perhatian serius para investor karena Alphabet sedang jor-joran membangun infrastruktur. Sepanjang kuartal III 2026, perusahaan telah mengeluarkan belanja modal sebesar US$51,4 miliar, di mana dua pertiga dari dana tersebut dialokasikan untuk pengadaan server dan perangkat jaringan, sementara sisanya dipakai membangun pusat data.
Lonjakan biaya operasional ini berdampak langsung pada penurunan profitabilitas perusahaan. Laba bersih Alphabet pada kuartal III 2026 susut menjadi US$26,17 miliar, turun dibandingkan laba bersih sebesar US$35 miliar dari total pendapatan US$102,35 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kendala Kapasitas Cloud dan Prospek Masa Depan
Sementara itu, lini bisnis Google Cloud membukukan pendapatan sebesar US$24,75 miliar. Meskipun menjadi penyumbang pendapatan terbesar kedua, sektor cloud kini menghadapi masalah keterbatasan kapasitas untuk memenuhi permintaan seluruh kliennya, yang memaksa Google mengalihkan sebagian beban kerja ke pihak ketiga dan berpotensi mengikis margin perusahaan ke depan.
CEO Google Cloud, Thomas Kurian, menyampaikan bahwa lebih dari 100 perusahaan telah menggunakan chip TPU buatan Google dan memastikan seluruh pasokan chip tersebut telah terikat kontrak penuh untuk menghasilkan pendapatan baru dalam beberapa kuartal ke depan. Di sisi lain, CEO Alphabet Sundar Pichai menyatakan optimisme terhadap prospek monetisasi AI setelah aplikasi Gemini sukses menjangkau 1 miliar pengguna sebagai rekor pertumbuhan tercepat dalam sejarah perusahaan.
Alphabet juga mempercepat pengembangan alat AI berbasis agen yang menyasar sektor korporasi sebelum nantinya diintegrasikan ke dalam Google Search. Meski tertekan dari sisi laba bersih, perusahaan tetap mempertahankan target belanja modal tahun ini di kisaran US$195 miliar hingga US$205 miliar serta memberikan sinyal akan menggelontorkan belanja modal yang jauh lebih besar pada tahun 2027 mendatang.







