Lebih dari 146 pakar kesehatan iklim dari berbagai belahan dunia mendesak agar perubahan iklim ditetapkan secara resmi sebagai kondisi darurat kesehatan global. Seruan mendesak tersebut disampaikan akibat kenaikan suhu bumi yang terus berlanjut dan memicu korban jiwa dalam jumlah rekor serta kerugian ekonomi yang masif.
Lonjakan Kematian Akibat Panas Ekstrem
Laporan tahunan The Lancet Countdown 2026 mengungkapkan bahwa dampak perubahan iklim berkembang jauh lebih cepat daripada kemampuan manusia dalam menanggulanginya. Pada 2023, jumlah kematian yang berkaitan dengan panas ekstrem mencapai 710.000 jiwa, di mana sebanyak 71,5 persen atau 507.000 jiwa di antaranya disebabkan langsung oleh faktor perubahan iklim.
Angka tersebut menunjukkan lonjakan yang sangat tajam dibandingkan dua dekade lalu ketika porsi kematian akibat panas yang dikaitkan dengan iklim masih berada di bawah separuhnya. Pada dekade 2006-2015, persentase kematian serupa tercatat sebesar 55 persen. Situasi ini menunjukkan bahwa hampir tiga perempat kematian akibat cuaca panas ekstrem saat ini tidak akan terjadi seandainya manusia tidak mengubah iklim bumi.
Selain merenggut ratusan ribu nyawa, suhu panas ekstrem turut menurunkan tingkat produktivitas tenaga kerja yang mengakibatkan kerugian ekonomi hingga menembus angka triliunan dolar. Wilayah Asia Tenggara dan Afrika tercatat sebagai kawasan yang harus menanggung beban terberat dari krisis ekonomi tersebut.
Ancaman Multi-Krisis dan Desakan Tindakan Global
Para ahli menyatakan bahwa ancaman iklim tidak berdiri sendiri, melainkan saling menumpuk dan menciptakan krisis yang jauh lebih besar. Kondisi kekeringan mengancam pasokan pangan serta gizi sekaligus menurunkan kualitas air dan udara, sementara banjir meningkatkan potensi penyakit menular, gangguan pernapasan, serta gangguan pencernaan, di tengah sistem kesehatan banyak negara yang sudah berjuang keras menghadapi beban berat.
Direktur Eksekutif The Lancet Countdown Marina Romanello mengatakan bahwa dampak krisis tersebut saling menyatu. “Ancaman ini saling menumpuk. Di saat sebagian wilayah mengering, yang lain justru dilanda banjir. Dampaknya tidak berdiri sendiri, melainkan menyatu menjadi krisis yang lebih besar,” ujar Marina Romanello seperti dilaporkan CNBC Indonesia.
Meskipun kemajuan telah dicapai dalam sektor energi bersih dan sistem peringatan dini dalam satu dekade terakhir sejak Perjanjian Paris, kecepatannya masih tertinggal jauh dari laju kerusakan. Laporan tersebut juga mencatat rencana perusahaan-perusahaan minyak dan gas terbesar di dunia untuk meningkatkan produksi bahan bakar fosil hingga 150 persen di atas batas aman yang diperlukan untuk menjaga pemanasan global agar tetap berada di bawah 1,5 derajat Celsius.
Menanggapi situasi tersebut, para peneliti mendesak Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk segera mengambil empat langkah strategis. Langkah-langkah tersebut meliputi penetapan perubahan iklim sebagai darurat kesehatan global, penempatan kesehatan masyarakat di pusat setiap keputusan iklim, peningkatan pendanaan hibah bagi program iklim dan kesehatan, serta pengurangan emisi gas rumah kaca secara cepat dan adil.
“Kita sudah memiliki bukti bahwa tindakan berpusat pada kesehatan berhasil. Udara bersih, sistem kesehatan yang tangguh, dan peringatan dini menyelamatkan nyawa. Namun laju pengurangan emisi masih belum sebanding dengan laju kerusakan yang terjadi,” kata ketua peneliti Anthony Costello kepada CNBC Indonesia.





