Daftar Isi
Film dokumenter You Can See Everything kembali menyoroti skandal Theranos dan bagaimana Elizabeth Holmes bersama pasangannya, Billy Evans, mengerjakan proyek baru bernama Haemanthus. Ulasan oleh Victoria Song di The Verge mengupas berbagai tanda bahaya yang kerap muncul dari startup bioteknologi yang menjanjikan solusi kesehatan instan tanpa dasar ilmiah yang kuat.
Mitos Teknologi Ajaib dalam Kesehatan
Dalam film tersebut, Evans menyebut bahwa Haemanthus menggunakan teknologi laser untuk perangkat diagnostik baru. Berdasarkan paten yang dipublikasikan oleh The New York Times, teknologi tersebut menggunakan spektroskopi Raman yang sebenarnya pertama kali ditemukan pada 1928, bukan sebuah inovasi baru. Teknologi ini memang berguna untuk mengidentifikasi struktur kimia dalam molekul, namun menjadikannya sebagai solusi instan untuk mendeteksi berbagai penyakit tetap memunculkan keraguan.
Menurut ulasan Victoria Song di The Verge, ketika para pendiri startup mulai mendewakan teknologi layaknya sihir untuk memecahkan segala masalah, alarm kewaspadaan harus segera berbunyi. Teknologi adalah alat yang memiliki kelebihan serta kekurangannya sendiri, dan dunia medis sering kali memerlukan rangkaian pengujian yang panjang alih-alih sekadar satu alat pemindai ajaib.
Perbedaan Kecepatan Teknologi dan Dunia Medis
Evans sempat menyatakan bahwa Haemanthus akan mampu menghadirkan prototipe baru yang revolusioner dalam kurun waktu sekitar satu tahun. Perusahaan tersebut dilaporkan mengincar pengujian pada hewan terlebih dahulu sebelum merambah ke manusia, dengan target jangka panjang berupa perangkat sandang seukuran perangko senilai 70 juta dolar Amerika Serikat dalam waktu tiga tahun.
Proses regulasi dan persetujuan di bidang kesehatan terkenal sangat ketat dan memakan waktu bertahun-tahun, seperti yang dialami oleh berbagai perangkat pemantau kesehatan mapan lainnya. Janji pengembangan yang terlalu cepat dalam dunia medis sering kali menjadi indikasi kuat bahwa sebuah perusahaan tidak menyampaikan keseluruhan fakta yang sebenarnya.
Pentingnya Keterbukaan Penelitian Ilmiah
Salah satu kesalahan fatal Theranos pada masa lalu adalah keengganan perusahaan untuk mempublikasikan riset mereka atau menyerahkannya untuk ditinjau oleh rekan sejawat atau *peer review*. Saat ini, perusahaan besar seperti Oura, Apple, dan Google telah mulai menerbitkan penelitian klinis yang ditinjau sejawat di jurnal terkemuka guna memperkuat transparansi sains mereka.
Meskipun tidak semua riset yang dipublikasikan serta-merta sempurna, ketiadaan sama sekali rekam jejak penelitian yang dapat ditinjau tetap merupakan peringatan keras bagi publik. Belajar dari kasus kritik profesor Stanford John P.A. Ioannidis terhadap Theranos pada 2015, upaya menutupi kurangnya bukti ilmiah dengan intimidasi hukum menunjukkan perilaku yang patut dipertanyakan dari sebuah perusahaan teknologi kesehatan.







