Daftar Isi
Berbagai kebijakan pemerintah seperti penurunan harga pupuk bersubsidi, penguatan komoditas, dan penghentian impor singkong mulai menunjukkan hasil positif di Lampung. Langkah strategis ini bertujuan untuk menggenjot pendapatan petani sekaligus menggerakkan roda perekonomian di pedesaan.
Dampak Kebijakan Harga dan Lonjakan NTP
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa Presiden Prabowo Subianto menempatkan sektor pertanian sebagai fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Melalui kendali biaya produksi yang lebih baik, petani kini memiliki kesempatan lebih luas untuk menaikkan kesejahteraan keluarga mereka.
Amran menyebutkan, penurunan harga pupuk bersubsidi serta penghentian impor singkong berdampak langsung pada lonjakan harga jual di tingkat petani. Harga singkong yang sebelumnya berkisar Rp700 per kilogram kini melonjak hingga mencapai Rp3.000 per kilogram, seperti dilaporkan CNN Indonesia.
“Sebagaimana arahan Bapak Presiden, harga pupuk bersubsidi turun. Kemudian untuk singkong, kami diperintahkan menghentikan impor. Hasilnya, harga singkong yang sebelumnya sekitar Rp700 per kilogram sekarang mencapai Rp3.000 per kilogram,” ujar Amran di Pringsewu, Lampung pada Minggu (25/10).
Kebijakan tersebut sekaligus memperkuat posisi tawar petani di dalam rantai pasok ekonomi agar manfaat pembangunan tidak hanya dinikmati oleh sektor perdagangan dan industri saja. Keberhasilan ini turut terekam pada Nilai Tukar Petani (NTP) yang menyentuh angka 131,11 dan menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah republik ini.
Kenaikan Konsumsi dan Aktivitas Ekonomi
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengungkapkan bahwa sektor padi, jagung, dan singkong memegang peranan vital karena menyerap hajat hidup hampir 60 persen penduduk di wilayahnya. Peningkatan kesejahteraan tersebut berimbas langsung pada indikator konsumsi masyarakat setempat.
Data Pemerintah Provinsi Lampung menunjukkan total kendaraan bermotor baru pada semester I 2026 menembus 83.515 unit atau naik 22,15 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 68.370 unit. Rinciannya mencakup kendaraan roda dua yang bertambah 19,90 persen dari 62.464 unit menjadi 74.892 unit, serta kendaraan roda empat yang naik secara agregat dari 5.906 unit menjadi 7.213 unit.
“Pembelian kendaraan di kabupaten-kabupaten pertanian meningkat. Kami juga melihat indikator konsumsi lain yang tumbuh. Ini menunjukkan aktivitas ekonomi di wilayah pertanian bergerak,” tutur Rahmat.
Dorongan Hilirisasi dan Rencana Ekspor
Pemerintah Provinsi Lampung juga menggalakkan program hilirisasi untuk mendongkrak nilai tambah produk pertanian lokal. Komoditas singkong yang mulanya dijual mentah kini mulai diolah menjadi produk turunan seperti tepung mocaf guna memperluas jangkauan pasar.
Rahmat menambahkan, komoditas tepung mocaf tersebut bahkan dijadwalkan segera melakukan ekspor ke Amerika Serikat pada bulan berikutnya. Sinergi antara pemerintah pusat dan daerah akan terus diperkuat demi memastikan seluruh kebutuhan serta regulasi yang berpihak kepada petani dapat diselesaikan dengan cepat.








