Bursa aset kripto global Binance dilaporkan mengalami peretasan dengan nilai kerugian mencapai US$6,3 miliar atau sekitar Rp104 triliun dengan asumsi kurs Rp16.500 per dolar AS. Menurut pemberitaan CNBC Indonesia, pihak Binance menyatakan kesiapannya untuk menanggung seluruh kerugian yang timbul akibat serangan siber tersebut.
Upaya Pembekuan dan Tantangan Pemulihan Aset
Berdasarkan pembaruan keamanan yang dirilis Binance, sekitar US$3 miliar atau setara Rp49,5 triliun dari total aset yang terdampak telah berhasil dibekukan. Kendati demikian, proses pengembalian dana yang telah dibekukan kepada para pemilik sah tidak bisa dilakukan secara instan.
Kepala Kebijakan Global TRM Labs, Ari Redbord, menjelaskan bahwa pembekuan sekadar menghentikan pergerakan dana agar tidak berpindah tempat. Aparat penegak hukum tetap harus mengurus perintah pengadilan atau surat penyitaan sebelum bekerja sama dengan penerbit stablecoin untuk melepaskan atau menerbitkan kembali aset tersebut.
Stablecoin seperti USDT dan USDC dinilai lebih mudah dipulihkan karena penerbitnya yakni Tether dan Circle mempunyai kendali atas kontrak token untuk membekukan, membakar, serta menerbitkan kembali token bagi korban. Sebaliknya, pemulihan Bitcoin dan Ethereum jauh lebih rumit karena ketiadaan penerbit sentral yang bisa mengendalikan transaksi secara langsung.
Kepala Riset Chainalysis, Eric Jardine, menyatakan bahwa pemulihan aset membutuhkan koordinasi lintas pihak antara aparat, bursa kripto, dan penerbit token tanpa ada standar waktu baku. Walau tidak dapat dibekukan langsung, transaksi Bitcoin dan Ethereum pada blockchain publik tetap bisa dilacak hingga masuk ke bursa atau platform terpusat yang bersedia bekerja sama.
Dugaan Keterlibatan Peretas Korea Utara dan Kondisi Keuangan Binance
Perusahaan analisis blockchain TRM Labs mengaitkan serangan ini dengan tingkat keyakinan tinggi kepada TraderTraitor, kelompok peretas yang disponsori pemerintah Korea Utara. Kelompok yang sama sebelumnya juga diidentifikasi oleh Biro Investigasi Federal Amerika Serikat atas peretasan bursa kripto Bybit senilai US$1,5 miliar pada Februari 2025.
Analisis TRM Labs menunjukkan penyerang memindahkan sekitar US$6,36 miliar aset digital dari dompet Binance melalui 10 jaringan blockchain dalam kurun waktu sekitar 20 menit. Persiapan peretasan tersebut diyakini sudah dimulai setidaknya 36 jam sebelumnya, termasuk memanfaatkan layanan pencampur transaksi Tornado Cash. Temuan serupa juga disampaikan oleh pendiri sekaligus CEO Chainalysis, Jonathan Levin, yang sepakat bahwa serangan ini mengarah pada kelompok TraderTraitor.
Di tengah situasi tersebut, harga Bitcoin turut tertekan dan diperdagangkan di bawah level US$78.000 pada Jumat (30/10/2026). Kepala Strategi Aset Digital Fundstrat Global Advisors, Sean Farrell, menilai insiden ini belum menimbulkan risiko solvabilitas yang signifikan bagi kelangsungan keuangan Binance.
Sekitar US$3,3 miliar aset dilaporkan belum berhasil dibekukan oleh pihak berwenang. Dana darurat Binance melalui Secure Asset Fund for Users senilai sekitar US$1,2 miliar diproyeksikan mampu menutup sepertiga dari sisa kerugian tersebut, sementara kekurangan sisanya akan ditanggung menggunakan cadangan dana perusahaan.







