Daftar Isi
Sebuah celah keamanan berbahaya baru-baru ini ditemukan pada platform kecerdasan buatan ChatGPT yang memungkinkan peretas menjalankan kode jahat di dalam akun pengguna aktif hanya melalui tautan berbagi palsu. Laporan dari perusahaan keamanan siber Parameter menunjukkan bahwa ancaman tersebut berpotensi membocorkan serta membaca isi percakapan pribadi korban tanpa disadari, seperti diberitakan CNBC Indonesia.
Modus Serangan Lewat Tautan Palsu
Modus peretasan dilakukan melalui percakapan ChatGPT biasa yang dibagikan lewat tautan publik. Tautan jebakan ini dapat disebarkan secara bebas melalui email, aplikasi pesan singkat, tiket dukungan, hingga unggahan di media sosial.
Skenario serangan ini terbilang sangat halus karena korban tidak diwajibkan menginstal aplikasi tambahan, bergabung ke ruang kerja, atau memasukkan kredensial login ke situs peretas. Pada pengujian peneliti, tautan tersebut dapat memicu fitur peninjauan secara otomatis begitu dibuka oleh korban.
Begitu tautan berhasil dibuka, kode jahat peretas akan langsung mengeksekusi perintah di dalam sesi akun korban yang sedang aktif dengan hak akses yang sama seperti situs resmi ChatGPT. Kode tersebut mampu memindai daftar obrolan terbaru, membuka percakapan pribadi yang belum pernah dibagikan, lalu mengirimkan sebagian datanya ke server yang dikendalikan peretas.
Karena kode ini memanggil antarmuka pemrograman aplikasi internal ChatGPT secara langsung, jangkauannya menjadi sangat luas.
“Pada dasarnya, kami dapat melakukan tindakan apa pun atas nama akun ChatGPT milik korban,” tulis tim peneliti Parameter dalam laporannya.
Pengujian yang dilakukan oleh Parameter bersifat terkontrol. Hingga saat ini, tidak ada indikasi bahwa celah tersebut telah dieksploitasi oleh peretas di dunia nyata, dan pengujian peretasan obrolan pribadi hanya dilakukan di antara akun milik internal peneliti.
Mekanisme Eksploitasi Celah
Peneliti menjelaskan bahwa kerentanan ini berawal dari fitur peninjauan di ChatGPT yang berfungsi mengubah blok HTML menjadi halaman web kecil. Secara sistem, halaman peninjauan tersebut sebenarnya diisolasi dalam ruang terbatas pada domain terpisah.
Namun, peretas memanfaatkan celah dari fitur lain dalam percakapan yang sama, yakni grafik interaktif yang memuat pustaka matematika bernama MathLive. Pemuatan pustaka ini meninggalkan fungsi pemantau pada halaman utama ChatGPT.
Kelemahan terjadi karena fungsi pemantau tersebut tidak memverifikasi asal pengirim pesan dan mengizinkan masuknya data berbentuk HTML mentah. Alhasil, fitur peninjauan dapat menembus batasan ruang terbatas dan menyuntikkan HTML peretas ke halaman utama situs.
Respons dan Penanganan Cepat OpenAI
Para peneliti Parameter melaporkan temuan tersebut kepada OpenAI melalui program bug bounty pada 18 Oktober lalu. Merespons laporan tersebut, OpenAI bergerak cepat dan berhasil menutup celah keamanan itu dalam kurun delapan hari, serta memberi label tingkat risiko P1 sebagai kategori ancaman paling serius.
Pihak OpenAI telah mengonfirmasi temuan tersebut dan langsung meningkatkan status keparahan ancaman dari P2 menjadi P1. Perusahaan mendistribusikan perbaikan pada dua versi tampilan depan ChatGPT untuk menolak pesan yang dimanfaatkan peretas.
Pengguna ChatGPT diimbau tidak perlu khawatir karena perbaikan telah diterapkan sepenuhnya dari sisi server OpenAI. Pengguna tidak perlu menginstal ulang aplikasi maupun menyetel ulang kata sandi.
Atas temuan celah keamanan kritikal ini, OpenAI memberikan imbalan bug bounty sebesar US$5.000 atau sekitar Rp90 juta kepada peneliti Parameter.







