Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi awal musim hujan akan mengalami kemunduran dari rata-rata klimatologisnya. Kondisi ini dipicu oleh kekeringan berkepanjangan yang menurunkan potensi pembentukan awan hujan di berbagai wilayah.
Dampak El Nino dan IOD pada Musim Hujan
Gabungan fenomena El Nino dan IOD yang berlangsung secara bersamaan pada musim kemarau tahun ini memicu kekeringan yang cukup parah di sebagian wilayah Indonesia. Sejumlah daerah dilaporkan masih menghadapi kebakaran hutan hingga saat ini.
Para ahli menjelaskan bahwa situasi tersebut memicu mundurnya awal musim hujan akibat minimnya kelembapan permukaan. Kondisi ini berdampak langsung pada penurunan proses penguapan yang sangat diperlukan untuk mendukung pertumbuhan awan hujan.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyampaikan bahwa rata-rata musim hujan di wilayah Indonesia pada tahun ini diprakirakan mundur sekitar 20 hingga 30 hari. Sejumlah wilayah diperkirakan baru akan mulai diguyur hujan pada November, sementara daerah lainnya pada Desember.
Seperti dilaporkan CNN Indonesia, Faisal menuturkan di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (26/10), bahwa musim hujan rata-rata di seluruh Indonesia diperkirakan mundur sekitar dua hingga tiga dasarian, atau 20-30 hari, akibat pengaruh El Nino.
Durasi Lebih Singkat dan Peringatan Bencana
Di samping kemunduran awal musim, durasi musim hujan tahun ini juga diprediksi akan berlangsung lebih singkat dibanding biasanya. Kendati demikian, perkiraan menunjukkan bahwa tingkat intensitas curah hujannya akan cenderung sama, yang berarti hujan lebat berpotensi turun di beberapa daerah.
Faisal menegaskan bahwa musim hujan juga akan terakumulasi cukup banyak dalam durasi yang lebih pendek, dengan sifat hujan normal. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk mulai bersiap menghadapi kondisi tersebut.
Pihak BMKG turut memberikan peringatan dini terhadap potensi ancaman bencana seperti banjir dan tanah longsor. Risiko ini muncul akibat tumpukan curah hujan yang lebat menjelang puncak musim hujan yang diperkirakan terjadi pada Desember, Januari, dan Februari, bergantung pada masing-masing wilayah.
Faisal menekankan perlunya kewaspadaan bersama terhadap bencana hidrometeorologi basah menjelang akhir tahun hingga awal tahun depan. Ia menyebutkan bahwa jumlah hujan yang turun relatif sama berdasarkan rata-rata klimatologis 30 tahun terakhir, namun durasinya lebih pendek.
Sebagai langkah penanganan, BMKG bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah menjalankan operasi modifikasi cuaca guna mempercepat pembentukan awan hujan di lokasi-lokasi prioritas kebakaran hutan, seperti di Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah.
Faisal menambahkan bahwa potensi pertumbuhan awan di Kalimantan Tengah cukup tinggi mulai hari ini hingga lima hari ke depan, sedangkan di Sumatera Selatan potensi serupa akan berlangsung tinggi mulai besok selama lima hari berikutnya.








