EKONOMI

BI Kurangi Penerbitan Surat Utang Demi Longgarkan Likuiditas

BI Kurangi Penerbitan Surat Utang Demi Longgarkan Likuiditas
Daftar Isi
  1. Kalibrasi Imbal Hasil dan Volume
  2. Keseimbangan Jangka Panjang dan Pendek
  3. Daya Tarik Investor Asing dan Fasilitas Perbankan

Bank Indonesia (BI) akan terus mengurangi penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) atau surat utang jangka pendek secara bertahap. Langkah ini bertujuan untuk memperlonggar likuiditas di pasar uang agar dana tidak terkunci pada instrumen tenor panjang.

Kalibrasi Imbal Hasil dan Volume

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea menyatakan bahwa pihaknya sudah melakukan kalibrasi terhadap SRBI, mencakup imbal hasil dan volume likuiditas yang diserap. Menurut catatan Erwin, posisi SRBI sempat berada di level tertinggi sekitar Rp1.070 triliun dan kini sudah turun ke kisaran Rp900 triliun.

Dengan penurunan tersebut, BI memperkirakan telah melepaskan likuiditas sekitar Rp150 triliun dari posisi tertingginya. Erwin menyampaikan dalam taklimat media BI pada Jumat (23/10) bahwa pihaknya mencatat posisi tertinggi SRBI pernah menyentuh angka 1.070 dan posisi terakhir sudah turun ke angka 900-an sehingga likuiditas yang dirilis dari SRBI dari posisi tertingginya adalah lebih kurang 150.

BI akan melanjutkan kalibrasi tersebut secara terukur dengan memperhatikan perkembangan likuiditas yang ada di pasar. Erwin menegaskan bahwa pengurangan SRBI tidak dilakukan secara tiba-tiba melainkan secara perlahan serta melihat dinamika yang berlangsung.

Keseimbangan Jangka Panjang dan Pendek

Kebijakan tersebut ditujukan untuk menyeimbangkan likuiditas pada instrumen tenor panjang dengan ketersediaan likuiditas dalam jangka pendek dan menengah. SRBI sendiri mempunyai pilihan tenor 6, 9, dan 12 bulan yang sebelumnya banyak menyerap likuiditas pada tenor panjang.

Dengan mengurangi volume SRBI secara bertahap, BI ingin memastikan ketersediaan dana di pasar uang mencukupi kebutuhan harian. Erwin menjelaskan bahwa langkah ini membuat likuiditas menjadi seimbang antara dana yang dikunci pada jangka panjang dan likuiditas di jangka pendek serta menengah.

Kecukupan likuiditas harian dinilai penting agar pergerakan suku bunga pasar uang tetap berada dalam koridor yang diharapkan. Kondisi ini juga diperlukan untuk memperkuat transmisi kebijakan moneter dari BI Rate menuju pasar uang dan diteruskan ke sektor perbankan.

Daya Tarik Investor Asing dan Fasilitas Perbankan

Meski volume penerbitan SRBI dikurangi melalui lelang secara teratur atau orderly agar tidak memicu gejolak, BI tetap mempertahankan instrumen tersebut sebagai aset rupiah yang menarik bagi investor asing. Erwin mengungkapkan bahwa SRBI tetap berfungsi sebagai instrumen operasi moneter dengan tingkat imbal hasil yang mempertimbangkan BI Rate, ekspektasi inflasi, serta risk premium.

Di samping itu, BI tetap membuka akses likuiditas bagi perbankan lewat instrumen operasi moneter lain seperti fasilitas repo yang tersedia mulai tenor satu minggu hingga 12 bulan. Perbankan dapat memanfaatkan surat berharga seperti SBN dan SRBI untuk melakukan repo.

Erwin menambahkan, apabila perbankan tidak memiliki SBN maupun SRBI tetapi mempunyai likuiditas valas, mereka bisa mengakses fasilitas swap ke Bank Indonesia. BI menyediakan fasilitas swap secara reguler dengan tenor satu, tiga, enam, hingga 12 bulan guna membantu perbankan mengelola perbedaan jatuh tempo antara penghimpunan dana jangka pendek dan penyaluran kredit jangka panjang.

Mungkin Anda Suka