Badan Gizi Nasional (BGN) meluruskan informasi mengenai jumlah siswa SMP di Dramaga, Bogor, Jawa Barat, yang diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Juru Bicara BGN Tysa Novenny menyatakan bahwa jumlah siswa yang terdampak tidak mencapai 400 orang seperti yang ramai diberitakan media.
Klarifikasi Jumlah Korban
Menurut Tysa kepada CNN Indonesia, jumlah siswa yang masih menjalani observasi kesehatan hingga Selasa (27/10) sore adalah 13 orang. Informasi tersebut diperoleh berdasarkan laporan dari tim di lapangan yang mencakup BGN Pusat, Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG), serta tim asistensi.
Tysa mengungkapkan bahwa para siswa menyantap menu MBG pada Senin (26/10) siang, lalu sebagian siswa mengeluhkan diare pada Selasa dini hari. Angka 400 orang muncul ketika guru di sekolah mengumpulkan siswa pada Selasa pagi untuk menanyakan apakah mereka merasakan sakit perut usai makan MBG sehari sebelumnya.
“Dari siswa tersebut ketika ditanya, mereka mungkin ada rasa seperti psikosomatis ya, ada yang ditanyakan ada rasa sakit perut enggak? Akhirnya 400 orang bilang kayaknya saya sakit perut. Nah, kemudian 400-nya itu dibawa ke rumah sakit terdekat,” ujar Tysa kepada CNN Indonesia, Selasa (27/10).
Dari total 400 orang yang sempat dibawa ke fasilitas kesehatan, sebanyak 40 orang memerlukan observasi lanjutan sampai siang hari sebelum akhirnya mengerucut menjadi 13 orang pada sore hari. BGN mencatat angka tersebut berasal dari total lebih dari 2 ribu penerima manfaat di dua sekolah di wilayah Dramaga, Bogor.
Penanganan dan Tindak Lanjut
Berdasarkan data sementara, insiden gangguan kesehatan tersebut diduga berasal dari sajian bumbu kacang pada menu sate. Pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) selaku penyedia makanan telah dijatuhi sanksi suspensi.
Bupati Bogor Rudy Susmanto menyatakan bahwa sebagian besar pelajar SMP tersebut sudah diperbolehkan pulang karena kondisi fisik mereka berangsur stabil. Penanganan medis awal dilakukan oleh tim kesehatan Puskesmas Cangkurawok bersama sejumlah rumah sakit rujukan.
“Alhamdulillah, kondisi para siswa berangsur membaik dan stabil bahkan akan dipulangkan,” ujar Rudy seperti dikutip dari detikcom, Selasa (27/10).
Pemerintah Kabupaten Bogor memastikan seluruh biaya pengobatan para siswa ditanggung sepenuhnya, baik untuk perawatan di Puskesmas maupun di rumah sakit pemerintah dan swasta yang menjadi rujukan.








