INTERNET

Bahaya Celah PHP Temuan AI yang Bikin Banyak Situs Tumbang

Bahaya Celah PHP Temuan AI yang Bikin Banyak Situs Tumbang
Daftar Isi
  1. Ancaman Global bagi Pengguna PHP
  2. Detail Kerentanan dan Respons Global
  3. Peran AI dalam Keamanan Siber

Jutaan situs web di berbagai belahan dunia menghadapi peningkatan risiko serangan siber menyusul penemuan dua celah keamanan pada sistem Hypertext Preprocessor (PHP) oleh kecerdasan buatan atau AI. Kondisi tersebut mendorong banyak pengelola situs web untuk menutup layanan mereka untuk sementara waktu guna menghindari potensi pembobolan.

Ancaman Global bagi Pengguna PHP

Bahasa pemrograman PHP telah menjadi fondasi bagi sebagian besar situs web di seluruh dunia selama lebih dari 30 tahun. Teknologi ini turut digunakan oleh berbagai sistem manajemen konten populer seperti WordPress, Drupal, Joomla, dan Magento.

Seperti dilaporkan CNN Indonesia, sekitar 70 persen situs web di internet menggunakan PHP, yang mengindikasikan jutaan situs terancam oleh kerentanan tersebut. Berbagai layanan penting termasuk milik lembaga pemerintah, toko daring, bank, hingga situs media besar seperti Wikipedia dan Facebook termasuk di dalamnya.

Sejumlah situs web instansi dan organisasi pemerintah dari Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Belanda, Kanada, Jepang, Jerman, serta berbagai negara lain juga telah dinonaktifkan sementara. Langkah ini diambil untuk mencegah peretas mengeksploitasi celah keamanan yang ada.

Detail Kerentanan dan Respons Global

Kerentanan ini terungkap setelah para peneliti bekerja sama dengan model AI Anthropic untuk memindai kode PHP, serta memasukkan proyek PHP ke dalam program Patch the Planet dari OpenAI. Kolaborasi tersebut menemukan masalah itu bersama pihak Calif pada pertengahan Agustus.

Temuan ini mencakup dua celah keamanan berisiko tinggi pada PHP yang selama bertahun-tahun luput dari perhatian manusia. PHP Foundation mengumumkan laporan kerentanan tersebut pada Rabu (21/10) lewat rilis resmi di laman mereka.

Dua kerentanan tersebut terdaftar sebagai CVE-2026-109618 dan CVE-2026-109619 yang berdampak pada sistem manajemen memori dan penanganan kesalahan. Kerusakan ini berisiko merusak memori situs web dan membuka jalur langsung menuju sistem berkas atau basis data peladen.

Kerentanan yang dijuluki sebagai eksploitasi PHP2Shell ini berdampak sangat luas karena menyerang bagian inti PHP dan sulit diperbaiki. Melalui celah ini, peretas dapat merebut kendali peladen lewat serangan jarak jauh tanpa autentikasi serta mencuri data sensitif.

Berbagai lembaga keamanan siber global termasuk NSA, NCSC, dan FBI telah mengeluarkan peringatan keras. Mereka mendesak pengelola situs web segera memperbarui sistem atau menonaktifkan layanan sementara jika pembaruan belum dapat dilakukan.

Peran AI dalam Keamanan Siber

Kemampuan agen AI dalam mendeteksi masalah kini semakin pesat, memungkinkan penemuan celah yang tidak disadari manusia sekaligus membantu memperbaiki atau justru mengeksploitasinya. Perkembangan ini memicu gelombang pembaruan sistem keamanan perangkat lunak karena AI dapat dimanfaatkan oleh siapa saja, termasuk para peretas.

Don Smith selaku pakar keamanan siber di Sophos Counter Threat Unit menyatakan bahwa para pelaku ancaman bergerak dengan sangat cepat berkat bantuan AI. Ia menilai celah PHP2Shell ini berpotensi menjadi target utama dalam waktu dekat.

Situasi ini menimbulkan kekhawatiran tersendiri mengingat PHP Foundation hanya didukung oleh 13 pengembang inti yang bekerja secara penuh maupun paruh waktu. Jumlah ini terpaut jauh dengan kemampuan AI yang bekerja secara cepat didukung investasi global bernilai miliaran dolar.

Untuk mengatasi masalah tersebut, PHP Foundation menggandeng berbagai pihak termasuk perusahaan keamanan siber Calif dan Wiz yang menemukan kasus ini. Mereka juga memanfaatkan teknologi AI dari Alpha-Omega, OpenAI, dan Anthropic guna meningkatkan pertahanan sistem keamanan perangkat lunak.

Mungkin Anda Suka