TEKNOLOGI

Dugaan Kesalahan Pilot di Balik Tragedi Jet Florida

Dugaan Kesalahan Pilot di Balik Tragedi Jet Florida
Daftar Isi
  1. Kronologi dan Dugaan Sindrom Cepat Sampai
  2. Faktor Es dan Upaya Naik
  3. Badai Sempurna dan Akhir Penerbangan

Kecelakaan mengerikan jet pribadi Learjet di Florida pada hari Minggu menewaskan sembilan orang di dalamnya. Sejumlah kesalahan manusia diduga menjadi pemicu insiden yang merenggut nyawa satu keluarga dan kru pesawat tersebut.

Kronologi dan Dugaan Sindrom Cepat Sampai

Pesawat bernilai USD 2 juta yang terbang dari Texas menuju Bahama itu melintas menembus badai sebelum kehilangan daya angkat pada ketinggian antara 10.668 hingga 11.277 meter. Pesawat kemudian menukik tajam, jatuh, serta meledak di dekat sebuah taman karavan di Palm Beach County.

Pihak berwenang masih menyelidiki insiden ini, sementara pakar penerbangan Justin Crabbe menilai pilot mengambil keputusan berisiko dengan menerobos badai berbahaya. Padahal, pengatur lalu lintas udara telah memberikan fleksibilitas bagi kru untuk mengubah arah demi menghindari cuaca buruk tersebut.

Menurut Crabbe yang merupakan pilot veteran sekaligus CEO Jettly, para penerbang tersebut diduga mengalami sindrom memaksakan diri agar cepat sampai atau yang disebut sebagai get-there-itis. Ketika peristiwa nahas itu terjadi, pesawat mengangkut dua pilot beserta seorang pengusaha teknologi, istrinya, dua anak mereka, dua teman dewasa, dan seorang pengasuh anak, seperti diberitakan detikINET dari NY Post.

Faktor Es dan Upaya Naik

Kopilot pesawat bernama Nathalia Filgueiras yang berusia 20 tahun sempat meminta serta mendapatkan izin untuk naik dari ketinggian 10.668 meter menjadi 11.277 meter demi menghindari cuaca buruk. Permintaan itu diajukan setelah ia melaporkan suhu luar berada di bawah nol derajat dan es mulai terbentuk di lambung pesawat.

Lapisan es menjadi ancaman serius bagi penerbangan karena mampu mengacaukan aliran udara di sekitar sayap sehingga pesawat kesulitan mempertahankan posisi di udara. Meski Learjet tersebut dilengkapi alat penghilang es, penumpukan dapat terjadi secara sangat cepat dalam kondisi ekstrem.

Justin Crabbe menyatakan bahwa upaya menerbangkan pesawat keluar dari zona bahaya justru berpotensi menjadi faktor yang mempercepat terjadinya stall. Saat hidung pesawat diarahkan ke atas, sudut serang tempat sayap bertemu aliran udara akan meningkat. Kondisi sayap yang tertutup es menuntut kerja lebih keras untuk menghasilkan daya angkat, sementara ambang batas sudut pemicu stall menjadi lebih rendah.

Dalam situasi tersebut, pilot dihadapkan pada dua pilihan sulit antara naik dengan bayang-bayang stall atau menukik lebih dalam ke badai dengan risiko penumpukan es yang semakin parah. Peristiwa tragis ini merenggut nyawa pengusaha Adam Robinson bersama istrinya Helen, kedua anak mereka Emma serta Charlie, rekan mereka Rachael Reed dan Charmi Fehr, serta pengasuh Anita Maria Apellido Cetina.

Badai Sempurna dan Akhir Penerbangan

Data NOAA menunjukkan bahwa pesawat tersebut terbang menembus sistem badai konvektif tidak biasa dengan ketinggian mencapai hampir 15.240 meter. Pengacara penerbangan Zachary S. Gorwitz menggambarkan situasi tersebut sebagai kombinasi sempurna dari berbagai masalah mulai dari turbulensi, pembentukan es, curah hujan, hingga badai petir tinggi yang terbentuk dengan sangat cepat.

Ketika pesawat mulai menukik tajam, ruang bagi pilot untuk melakukan tindakan koreksi menjadi sangat terbatas terutama karena badan pesawat tampaknya sudah mulai hancur sebelum menghantam tanah. Gorwitz meyakini bahwa pada titik itu, pilot sempat berupaya menarik mundur tuas kendali untuk mengangkat hidung pesawat, namun hal tersebut sudah tidak mungkin dilakukan mengingat kecepatan dan sudut jatuhnya.

Di sisi lain, Gorwitz meragukan faktor usia kopilot yang masih muda berkaitan dengan penyebab kecelakaan. Berdasarkan komunikasi radio, fakta bahwa kopilot berusia 20 tahun yang berbicara menunjukkan bahwa kendali utama penerbangan berada di tangan sang pilot utama.

Mungkin Anda Suka