Daftar Isi
Gelombang pemilu sela tahun 2026 yang mengubah peta kekuatan di Kongres dan berbagai pemilihan negara bagian mengarah pada penolakan terhadap kecerdasan buatan (AI) serta pusat data kontroversial. Para pendukung pusat data sebelumnya telah menggelontorkan dana besar untuk mendukung Presiden Donald Trump dan kandidat dari Partai Republik, termasuk CEO xAI Elon Musk yang menanamkan ratusan juta dolar ke dalam kampanye pemilu sela di Texas.
Penolakan Melalui Pemungutan Suara Langsung
Di berbagai wilayah di seluruh negeri, para pemilih menentukan sikap mereka melalui inisiatif langsung pada surat suara untuk memutuskan kelanjutan proyek pusat data di distrik masing-masing. Berdasarkan data dari situs Data Centers on the Ballot, para pemilih mendukung sekitar 40 langkah pemungutan suara pada hari pemilihan yang bertujuan membatasi pembangunan pusat data baru, sementara hanya satu hasil di Harwood, North Dakota, yang mendukung ekspansi pusat data.
Ohio tercatat memiliki jumlah langkah pemungutan suara terbanyak yaitu sebanyak 21 kebijakan, dan semuanya berpihak pada pembatasan. Negara bagian lainnya yang turut mengadakan pemungutan suara terkait pusat data meliputi Maine, Illinois, Kansas, New Jersey, California, Florida, Nevada, North Dakota, dan Wisconsin.
Sebelumnya, enam pemilihan serupa juga telah diselenggarakan pada awal tahun 2026 di California, Michigan, New Hampshire, dan Wisconsin, di mana seluruh pemilih menentang kelanjutan pembangunan pusat data tanpa adanya pembatasan baru. Bentuk pembatasan yang diajukan bervariasi, mulai dari penerapan batas megawatt untuk konsumsi energi, masalah zonasi spesifik, kewajiban persetujuan pemilih untuk proyek baru, hingga larangan mutlak terhadap pusat data baru yang berhasil disahkan dalam enam kesempatan.
Sentimen Publik dan Dampak Politik
Jajak pendapat dari kelompok seperti Pew Research menunjukkan bahwa masyarakat Amerika mulai menjauhi pusat data akibat tingginya tagihan listrik, konsumsi air, dan berbagai kekhawatiran lingkungan. Isu kekhawatiran terhadap pusat data juga berkaitan erat dengan dampak AI terhadap lapangan pekerjaan, yang pada akhirnya menjadi isu perpecahan yang memengaruhi hasil pemilu sela.
Politico bahkan menyebut pusat data sebagai pihak lain yang kalah besar dalam pemilu sela selain Partai Republik, menyusul disahkannya berbagai aturan pembatasan di seluruh negeri serta penyebutan pusat data dalam pidato kemenangan kubu Demokrat. Senator terpilih Sherrod Brown menyatakan dalam pidato kemenangannya bahwa dirinya tidak bekerja untuk pusat data maupun Wall Street, melainkan untuk masyarakat. Sementara itu, USA Today melaporkan bahwa dua wali kota masing-masing di Oklahoma dan Ohio harus lengser melalui pemecatan menyusul protes publik atas rencana pembangunan pusat data.
Prospek Kebijakan dan Tekanan Komunitas
Hasil pemilu sela ini diproyeksikan membawa dampak jangka panjang bagi perusahaan teknologi dan penyedia pusat data, dengan potensi pengawasan yang lebih ketat seiring dikuasainya Kongres oleh Partai Demokrat. Senior fellow di Brookings Institution, Darrell West, menyatakan bahwa kebijakan publik akan mencerminkan opini masyarakat yang telah mengalami pergeseran besar dalam kurun waktu satu tahun terakhir.
Tekanan politik dari pemilu sela dapat mendorong para pejabat lokal untuk menunda atau membatalkan proyek pusat data demi mendapat dukungan publik, sekaligus menekan perusahaan penyedia agar memberikan penawaran yang lebih menguntungkan bagi komunitas. Berdasarkan laporan The New York Times, masa-masa pemberian keringanan pajak dan insentif besar bagi pusat data kini mulai mendekati akhir karena masyarakat menuntut agar fasilitas tersebut membayar pajak, membangun pembangkit listrik sendiri, menanggung biaya utilitas, serta berkontribusi pada sumber daya komunitas lokal seperti dana pendidikan.








