UMUM

BMKG Ungkap Asal-usul Es Batu ‘Raksasa’ Timpa Rumah Warga Bantul

BMKG Ungkap Asal-usul Es Batu ‘Raksasa’ Timpa Rumah Warga Bantul
Daftar Isi
  1. Pemantauan Radar Cuaca dan Kondisi Atmosfer
  2. Proses Pembentukan Es Berukuran Besar
  3. Kronologi dan Penanganan di Lapangan

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta memberikan penjelasan terkait kondisi cuaca dan atmosfer saat bongkahan es misterius berukuran sekitar 20 sentimeter menimpa sebuah rumah warga di Dusun Jodog, Gilangharjo, Pandak, Bantul, pada Senin pagi.

Pemantauan Radar Cuaca dan Kondisi Atmosfer

Forecaster on duty BMKG Yogyakarta, Heri, menyampaikan bahwa hasil pemantauan radar cuaca mendeteksi potensi hujan ringan hingga sedang di sekitar wilayah Bantul pada pukul 08.00 WIB atau bertepatan dengan waktu kejadian. Kendati demikian, wilayah yang terpantau berpotensi hujan terletak di sebelah barat laut dari lokasi rumah warga yang tertimpa bongkahan es.

Heri menuturkan bahwa hujan di wilayah Pandak baru tercatat melalui data radar pada pukul 09.00 WIB atau berselang satu jam dari laporan warga. Keadaan atmosfer di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) saat ini juga dipengaruhi oleh gangguan atmosfer Madden-Julian Oscillation (MJO) yang memiliki rentang pergerakan antara 20 hingga 40 hari.

Selain itu, tingkat kelembapan udara di DIY tercatat berada pada kisaran 50 hingga 90 persen pada lapisan atmosfer dengan ketinggian 1,5 hingga 3 kilometer. Kondisi ini mendukung pembentukan hujan ringan hingga sedang di sejumlah titik di DIY, meski BMKG belum dapat memastikan keterkaitannya dengan kemunculan bongkahan es di Dusun Jodog.

Heri menjelaskan bahwa fenomena gangguan atmosfer tersebut sering melintasi wilayah Indonesia tanpa selalu memicu kondisi awan yang ekstrem. Untuk memastikan fenomena yang berskala kecil dan lokal seperti itu, pihaknya memerlukan analisis serta data yang lebih mendalam lantaran citra radar saat ini belum dapat menampilkan rincian lebih lanjut, terlebih DIY sedang memasuki periode peralihan musim dengan kondisi awan pagi hari yang tidak menunjukkan perkembangan signifikan.

Proses Pembentukan Es Berukuran Besar

Terkait ukuran bongkahan es yang mencapai sekitar 20 sentimeter, Heri mengungkapkan bahwa proses pembentukan es dengan dimensi sebesar itu memerlukan dinamika atmosfer yang sangat kuat. Bongkahan es harus melalui pergerakan berulang di dalam awan agar ukurannya bisa membesar, yang tentunya menuntut pertumbuhan awan masif serta dukungan dinamika atmosfer.

“Maksudnya sampai segitu besarnya itu itu memang perlu kondisi menurut analisis sementara gitu ya, perlu memang proses awan yang sangat besar terus esnya itu di angkat ke atas, angkat ke bawah oleh dinamika atmosfer gitu sampai jadi besar,” jelas Heri kepada CNN Indonesia.

Ia menambahkan, apabila proses pembentukan es sebesar itu benar-benar terjadi, seharusnya ada indikasi cuaca ekstrem yang berdampak di beberapa lokasi secara luas, bukan hanya pada satu titik tunggal. Namun, kondisi atmosfer pada pagi hari tersebut tidak menunjukkan gejala yang sangat ekstrem, mengingat cakupan hujan yang terdeteksi hanya bersifat ringan hingga sedang di sebelah barat laut lokasi kejadian dengan ketebalan awan yang terbatas.

Kronologi dan Penanganan di Lapangan

Sebelumnya, sebongkah es berdiameter sekitar 20 sentimeter dilaporkan menghantam rumah warga di RT 3 Dusun Jodog, Gilangharjo, Pandak, Bantul, pada Senin sekitar pukul 08.00 WIB. Peristiwa tersebut mengakibatkan bagian atap serta plafon rumah mengalami kerusakan jebol, di mana bongkahan es itu diduga berukuran lebih besar sebelum akhirnya terpecah menjadi dua bagian besar dan beberapa potongan kecil.

Kepala Dusun Jodog, Bayu Yunarto, menyebut peristiwa itu tergolong janggal karena hanya berdampak pada satu rumah saja di tengah kondisi langit mendung tanpa adanya hujan air maupun hujan es. Beruntung, insiden ini tidak memicu korban jiwa karena rumah tersebut sedang dalam keadaan kosong.

Di sisi lain, Kepala Bidang Kedaruratan Logistik dan Peralatan BPBD Kabupaten Bantul, Antoni Hutagaol, mengonfirmasi telah menerima laporan tersebut dan berkoordinasi bersama BMKG guna menelusuri kemungkinan fenomena hujan es. Menurutnya, hujan es pada masa pancaroba memang biasa terjadi, tetapi ukuran bongkahan kali ini jauh lebih besar ketimbang fenomena lazim yang biasanya hanya sebesar bola pingpong.

Hingga kini, proses pendalaman terkait penyebab jatuhnya bongkahan es tersebut masih dilakukan oleh lintas instansi dan pemerintah setempat belum dapat menyimpulkan apakah terdapat unsur kesengajaan dalam kejadian ini.

Mungkin Anda Suka