INTERNET

Eks-Eksekutif Palantir Rilis Dream dengan Pendanaan $17 Juta

Eks-Eksekutif Palantir Rilis Dream dengan Pendanaan $17 Juta
Daftar Isi
  1. Latar Belakang dan Motivasi Mendirikan Dream
  2. Pendekatan Kognisi Struktural dan Pelatihan AI
  3. Penerapan dan Persaingan Industri

Dua mantan eksekutif Palantir, Andy Elder dan Arjun Mathur, resmi meluncurkan startup bernama Dream setelah mendapatkan pendanaan tahap awal sebesar US$17 juta atau sekitar Rp267,8 miliar yang dipimpin oleh Andreessen Horowitz. Startup ini berfokus pada pengembangan model dunia buatan (built world models) untuk mengotomatisasi perancangan dan rekayasa bangunan guna mengatasi penurunan produktivitas di sektor konstruksi Amerika Serikat.

Latar Belakang dan Motivasi Mendirikan Dream

Elder dan Mathur merupakan mantan teman sekamar di Universitas Stanford yang mengambil studi ilmu komputer dan menghabiskan waktu satu dekade di Palantir. Elder memimpin desain produk untuk tim yang membangun perangkat lunak bagi lembaga pertahanan dan intelijen AS, sementara Mathur menjabat sebagai wakil presiden senior di divisi komersial perusahaan tersebut. Meskipun tidak memiliki latar belakang langsung di bidang arsitektur, keduanya tergerak oleh masalah mahalnya biaya pembangunan fisik saat ini seperti dilaporkan TechCrunch.

Mathur mengatakan kepada TechCrunch bahwa kemampuan manusia dalam membangun dunia fisik justru mengalami penurunan di tengah perkembangan teknologi yang pesat. Keyakinan bahwa kecerdasan buatan mampu mendongkrak produktivitas di industri arsitektur, teknik, dan konstruksi melandasi keputusan mereka untuk mendirikan Dream. Pendanaan awal ini juga melibatkan partisipasi dari sejumlah investor lain seperti SV Angel, XYZ, dan Zigg Capital.

Pendekatan Kognisi Struktural dan Pelatihan AI

Dream hadir untuk menggantikan perangkat lunak lama yang dinilai sudah usang dan rumit di industri konstruksi, seperti AutoCAD dan Revit milik Autodesk. Mathur menjelaskan bahwa para arsitek dan insinyur struktural saat ini masih menggambar setiap bagian desain secara manual di perangkat lunak warisan tanpa keterlibatan kecerdasan buatan.

Berbeda dengan model bahasa besar (LLM) seperti ChatGPT yang hanya bisa menghasilkan gambar visual bangunan tanpa jaminan kekuatan struktur, model buatan Dream didasarkan pada fisika nyata dan standar konstruksi. Model ini dilatih menggunakan data bangunan seluas lebih dari 100 juta kaki persegi yang dikumpulkan dari arsip izin di seluruh wilayah Amerika Serikat.

Elder menjelaskan bahwa model kecerdasan buatan mereka memahami isi di balik dinding bangunan, termasuk material yang digunakan, bahan balok, hingga kapasitas beban yang mampu ditopang. Perusahaan menyebut pendekatan ini sebagai kognisi struktural karena mampu menghasilkan desain yang presisi secara struktural dengan memperhitungkan elemen internal seperti pipa ledeng dan sistem HVAC.

Penerapan dan Persaingan Industri

Menurut para pendirinya, produk Dream saat ini sudah mulai dijual kepada para profesional arsitektur, teknik, konstruksi, serta pengembang untuk merancang konsep bangunan dan memperkirakan total biaya. Platform tersebut bahkan telah diterapkan pada 10 proyek aktif yang berlokasi di Texas dan California.

Meskipun terdapat beberapa perusahaan rintisan lain yang berupaya memperbarui perangkat lunak konstruksi menggunakan kecerdasan buatan seperti Motif, Snaptrude, dan Arcol, Elder dan Mathur menyatakan bahwa perusahaan mereka menjadi satu-satunya yang mengembangkan model dunia untuk merancang bangunan secara utuh seketika.

Kimberly Tan selaku mitra di Andreessen Horowitz mengungkapkan bahwa perusahaannya telah menanamkan investasi sejak Dream masih berupa gagasan lebih dari satu tahun lalu dan merasa terkesan dengan perkembangan yang dicapai. Menurutnya, pendekatan teknis yang diterapkan oleh Dream sangat unik karena mereka membangun segalanya berdasarkan model buatan sendiri.

Mungkin Anda Suka