Era kejayaan jurusan ilmu komputer di perguruan tinggi Amerika Serikat kini mulai meredup akibat bayang-bayang teknologi kecerdasan buatan dan ancaman pengangguran bagi para lulusan baru. Data terbaru menunjukkan penurunan drastis jumlah pendaftaran mahasiswa baru di bidang teknologi informasi tersebut sepanjang semester ganti tahun ini.
Penurunan Pendaftaran Mahasiswa
Berdasarkan data National Student Clearinghouse seperti dilaporkan Tech – Berita AI, Gadget, Teknologi dan Sains – CNBC Indonesia (cnbcindonesia.com), angka pendaftaran mahasiswa baru tingkat sarjana ilmu komputer di universitas-universitas AS merosot lebih dari 12 persen. Untuk jenjang pascasarjana, penurunannya tercatat menembus lebih dari 10 persen.
Tren eksodus mahasiswa dari bidang teknologi ini semakin terlihat jelas dalam rentang waktu dua tahun terakhir. Program sarjana ilmu komputer kehilangan 18,4 persen mahasiswanya, sementara program pascasarjana ambles hingga 27,1 persen.
“Ini adalah penurunan yang sangat luar biasa untuk sebuah bidang yang belum lama ini tercatat sebagai salah satu jurusan dengan pertumbuhan tercepat di pendidikan tinggi,” ujar Direktur Penelitian Senior National Student Clearinghouse, Matthew Holsapple, seperti dikutip dari Business Standard.
Dampak AI dan Kebijakan Imigrasi
Penyusutan minat tersebut dipicu oleh pergeseran peta kerja di industri teknologi di mana efisiensi berbasis AI membuat banyak perusahaan besar menghapus posisi koding tingkat pemula. Kondisi ini membuat lulusan baru kesulitan mendapatkan pekerjaan pertama dan berujung pada pengangguran.
Laporan Biro Statistik Tenaga Kerja AS pada Agustus lalu mengonfirmasi bahwa sektor komputer dan matematika merupakan area yang paling terdampak oleh otomatisasi AI. Tekanan terhadap pendaftaran mahasiswa turut diperparah oleh kebijakan imigrasi yang diperketat oleh Presiden Donald Trump.
Lembaga konsultan pendidikan JB International dan NAFSA mencatat jumlah mahasiswa asing baru di AS sempat merosot 17 persen pada tahun 2025. Proyeksi tren tersebut berlanjut karena jumlah aplikasi kampus dari luar negeri tahun ini menyusut 10 persen, yang menjadi penurunan terbesar dalam satu dekade terakhir.
Di tengah kelesuan pendaftaran universitas secara umum yang hanya tumbuh tipis 0,6 persen, perguruan tinggi komunitas justru mencatatkan kenaikan pendaftaran mahasiswa sebesar 1,2 persen.
“Para mahasiswa mulai mencari alternatif jalur pendidikan di luar skema tradisional. Faktor keterjangkauan biaya menjadi salah satu pertimbangan utamanya,” tutup Holsapple.







