Daftar Isi
Penyelenggaraan Rapat Tahunan Tata Kelola Internet ke-87 (ICANN87) di Bali menandai babak baru bagi pelestarian budaya Indonesia di ranah siber. Domain tingkat dua berbasis aksara daerah resmi diluncurkan ke publik pada 19 Oktober 2026, mencakup Aksara Bali, Jawa, serta aksara berbasis Arab Nusantara seperti Pegon, Jawi, dan Arab Melayu.
Tantangan Teknis dan Universal Acceptance
Membawa aksara tradisi ke lanskap internet baru berupa langkah awal, sementara tantangan utamanya kini terletak pada kesiapan infrastruktur teknis agar aksara-aksara tersebut mampu beroperasi secara mulus di berbagai aplikasi, situs web, layanan digital, hingga ekosistem surat elektronik.
Ketua Kelompok Kerja Internationalized Domain Name (Pokja IDN) PANDI, Heru Nugroho, menegaskan bahwa kesetaraan bahasa dan aksara di ranah internet global bergantung pada penerapan Universal Acceptance (UA).
“Konsep ini menuntut seluruh nama domain dan alamat pos-el multibahasa yang valid agar dapat dikenali dan diproses tanpa kendala teknis,” ujar Heru dalam keterangannya, Rabu (28/10/2026).
Dukungan Lembaga Dunia dan Dampak Positif
Pentingnya isu ini juga menjadi perhatian lembaga dunia di mana pada awal 2026, UNESCO bersama Internet Corporation for Assigned Names and Numbers (ICANN) merilis panduan kebijakan UA untuk mengatasi jurang keberagaman budaya di ruang digital.
UNESCO menilai bahwa meskipun standar IDN dan Email Address Internationalization (EAI) sudah rampung, masih banyak sistem digital modern yang belum ramah terhadap karakter non-Latin.
Pengadopsian UA berpotensi memicu dampak domino yang positif, antara lain mendongkrak ekonomi digital lokal, memperluas jangkauan layanan publik, memperkuat pendidikan berbasis bahasa ibu, serta menjamin keberlanjutan warisan budaya.
Sinergi Lintas Sektor untuk Internet Inklusif
Guna merealisasikannya, sinergi lintas sektor menjadi harga mati di mana pemerintah didesak menetapkan kepatuhan UA dalam pengadaan teknologi publik. Pengembang perlu menjadikannya standar dasar perancangan perangkat lunak, sementara akademisi dan komunitas bertugas memperkuat edukasi serta kapasitas SDM lokal.
Bagi Indonesia, digitalisasi aksara Nusantara bukan sekadar proyek lokal, melainkan bagian dari gerakan global demi mewujudkan internet yang inklusif tanpa dukungan ekosistem yang adaptif yang membuat aksara tradisi berisiko makin terasingkan.
Perjuangan mewujudkan Universal Acceptance membutuhkan komitmen dan kolaborasi jangka panjang antarbangsa agar setiap bangsa bebas terhubung dengan dunia tanpa melepaskan akar budayanya.







