Microsoft mengumumkan rencana penawaran program *buyout* atau pengunduran diri sukarela kepada sekitar 60.000 karyawannya pada Senin, yang mencakup seperempat dari total tenaga kerja perusahaan. Berdasarkan laporan yang diperoleh CNBC, penawaran ini ditujukan bagi staf pada level pengalaman 70 atau di bawahnya di Amerika Serikat, Kanada, India, dan Inggris.
Kebijakan Transisi Karyawan
Pihak Microsoft menyatakan bahwa langkah tersebut dirancang untuk memberikan pilihan baru bagi karyawan yang memenuhi syarat dan mempertimbangkan masa depan di luar perusahaan agar dapat melakukan transisi sekarang dengan dukungan. Perusahaan teknologi tersebut belum merinci jumlah pasti karyawan yang akan disetujui dalam program *buyout* ini, kendati jumlahnya diperkirakan lebih sedikit dari total pekerja yang ditawari.
Kebijakan ini muncul beberapa bulan setelah Microsoft melaporkan kucuran dana sekitar 116 miliar dolar AS untuk properti dan peralatan pada tahun fiskal 2026, yang sebagian besar dialokasikan untuk kapasitas pusat data komputasi awan dan kecerdasan buatan. Angka tersebut menunjukkan peningkatan sekitar 50 miliar dolar AS dibanding tahun fiskal 2025, sementara pendapatan operasional perusahaan naik sekitar 30 miliar dolar AS dalam kurun waktu yang sama.
Dampak terhadap Divisi dan Tren Industri
Penawaran pengunduran diri sukarela ini berdampak pada sejumlah divisi termasuk Xbox, Windows, Copilot, dan keuangan, namun mengecualikan staf pusat data, penjualan, serta pemasaran tertentu seperti dilaporkan oleh Bloomberg. Sebelumnya, divisi Xbox telah memangkas 1.600 pekerja pada Juli lalu dan gelombang pemangkasan lanjutan diperkirakan terjadi sebelum Juni 2027. Kebijakan ini menegaskan bahwa perusahaan lebih memprioritaskan pembangunan infrastruktur, otomatisasi, dan efisiensi modal daripada perekrutan tenaga kerja baru.
Data dari Digital Economy Lab di Stanford HAI menunjukkan bahwa tingkat pekerjaan pada posisi yang rentan terhadap kecerdasan buatan, seperti pengembangan perangkat lunak dan pengalaman pelanggan, telah merosot lebih dari 4 persen pada tahun ini. Meskipun teknologi kecerdasan buatan belum menghapus lapangan kerja secara masif, korporasi kini menggelontorkan miliaran dolar untuk sektor komputasi sembari bersikap sangat selektif dalam menambah jumlah personel.






