PENDIDIKAN

Maraknya AI Dinilai Akhiri Era Tugas Rumah di Kampus

Maraknya AI Dinilai Akhiri Era Tugas Rumah di Kampus
Daftar Isi
  1. Tantangan Pengajar di Era Alat Digital
  2. Dugaan Penggunaan Masif dan Dilema Akademik
  3. Pentingnya Proses Pembelajaran

Penggunaan alat kecerdasan buatan (AI) yang kian meluas di lingkungan perguruan tinggi dinilai telah merusak efektivitas penilaian tugas rumah tradisional. Maraknya platform seperti ChatGPT membuat sejumlah pengajar merasa kesulitan memverifikasi keaslian karya yang dikumpulkan oleh para mahasiswa.

Tantangan Pengajar di Era Alat Digital

Fenomena ini tercermin dari pengalaman seorang mantan profesor di Walter Cronkite School of Journalism and Mass Communication, Arizona State University (ASU), seperti dilaporkan CNET. Setelah peluncuran ChatGPT pada akhir 2022 dan semakin maraknya bot obrolan canggih, proses pemeriksaan tugas rumah berubah menjadi upaya pengawasan ketat untuk mencari tanda-tanda teks buatan AI.

Kondisi serupa juga terjadi di universitas lain. Seorang profesor matematika di UC Berkeley bahkan memutuskan untuk tidak lagi menilai tugas rumah mahasiswa karena maraknya penggunaan AI di kalangan peserta didik.

Dalam perkuliahan daring, pengajar kerap menemukan forum diskusi yang diisi oleh rujukan kompleks di luar materi resmi perkuliahan. Ketika mahasiswa diberi tugas yang tidak dapat diserahkan kepada AI, seperti simulasi atau presentasi lisan yang direkam, mereka kerap kesulitan mempertahankan standar tinggi yang sebelumnya terlihat pada tugas tertulis.

Dugaan Penggunaan Masif dan Dilema Akademik

Guna mendeteksi penggunaan teknologi tersebut, mantan pengajar di ASU itu sempat memasukkan beberapa tugas ke dalam alat obrolan AI untuk membandingkan hasilnya dengan pekerjaan mahasiswa. Sebelum berhenti mengajar pada awal tahun ini, ia menduga setidaknya 90 persen mahasiswa kelas daring yang diampunya menggunakan AI untuk menyelesaikan seluruh atau sebagian tugas mereka.

Pengalaman di kelas tatap muka juga menunjukkan masalah serupa. Dalam sebuah insiden, seorang mahasiswa tidak mampu menjelaskan proses kreatif di balik ide presentasinya saat ditanyai di depan kelas. Mahasiswa tersebut kemudian mengakui penggunaan ChatGPT dan berjanji tidak mengulanginya, namun pelanggaran serupa tetap terjadi pada tugas berikutnya.

Saat masalah ini dikonsultasikan kepada dekan pengawas untuk kemungkinan dirujuk ke dewan integritas akademik, keputusan diserahkan kembali kepada pengajar. Pihak pimpinan universitas mengakui sedang berupaya menentukan sikap di tengah adopsi AI yang sangat luas. Kebijakan resmi ASU saat ini berfokus pada penggunaan AI untuk mengatasi tantangan pendidikan dengan tetap menghormati seluruh pembelajar.

Pentingnya Proses Pembelajaran

Penggunaan AI sebagai jalan pintas dinilai berisiko mengabaikan makna sejati dari pendidikan. Belajar bukanlah sekadar mengejar nilai atau hasil akhir, melainkan sebuah proses pribadi untuk menguasai keahlian yang dapat digunakan secara mandiri.

Mahasiswa yang menyerahkan proses belajar mereka kepada kecerdasan buatan dinilai mempertaruhkan kredibilitas diri sendiri. Selama otak manusia belum terhubung langsung ke komputer secara penuh, ketergantungan pada AI menjadi masalah mendasar yang harus segera disikapi oleh para pendidik.

Mungkin Anda Suka