Aplikasi pemutar film dan acara televisi berbasis torrent, Popcorn Time, menyimpan ancaman serius karena jutaan perangkat yang masih memasangnya berisiko dimanfaatkan sebagai tentara zombie atau botnet. Pengembangannya telah dihentikan sejak bertahun-tahun lalu, namun perangkat lunak yang sempat dijuluki sebagai Netflix bajakan ini masih tertanam di banyak perangkat pengguna.
Ancaman dari Pembaruan yang Terbengkalai
Berdasarkan temuan para peneliti dari Eye Security yang dilaporkan oleh The Verge, program pembaru atau *updater* untuk salah satu varian Popcorn Time bernama Time4Popcorn masih aktif berjalan di berbagai perangkat Windows, macOS, serta Android di seluruh dunia. Sistem tersebut terus menghubungi domain web yang kini sudah terbengkalai melalui sambungan HTTP yang tidak terenkripsi, serta menjalankan versi Google Chrome yang sudah usang dan tidak aman.
Niels Teusink dari Eye Security menyatakan bahwa sistem pembaru tersebut sebenarnya dapat dimanfaatkan untuk mengunduh dan menjalankan berbagai jenis perangkat lunak dengan hak akses penuh. Celah ini berpotensi memudahkan siapa saja untuk membangun jaringan botnet hanya dengan mengambil alih salah satu domain, melancarkan serangan *man-in-the-middle* untuk mengincar perangkat tertentu, atau melakukan pengawasan dengan mengidentifikasi mesin yang menjalankan aplikasi tersebut.
Langkah Penanganan dan Penonaktifan
Sebagai solusi, para peneliti mendaftarkan salah satu domain yang terbengkalai dan memanfaatkannya untuk mengirimkan pembaruan buatan mereka sendiri yang berisi instruksi agar sistem pembaru mematikan dirinya. Meskipun sempat memunculkan perdebatan terkait etika perbaikan tersebut, para peneliti berujar bahwa satu-satunya pilihan lain adalah membiarkan masalah itu tanpa tindakan apa pun, mengingat proses pembaruan tersebut sudah tidak berfungsi secara normal dan hanya mendatangkan risiko bagi pengguna.
Pihak Eye Security merinci bahwa pada perangkat Windows, pembaruan tersebut bekerja dengan cara menghentikan serta menonaktifkan layanan melalui manajer kontrol layanan tanpa menghapus berkas apa pun. Sementara itu pada sistem macOS, pembaruan memanfaatkan skrip *shell* untuk menjalankan perintah yang mencegah proses pembaruan dimulai. Kendati demikian, mereka tidak menjelaskan penanganan serupa untuk perangkat Android yang memerlukan interaksi langsung dari pengguna untuk memasang pembaruan.
Para peneliti sempat harus menyesuaikan berkas pembaruan setelah diunggah ke VirusTotal karena program keamanan sempat mendeteksinya sebagai perangkat lunak berbahaya dan memblokirnya, sehingga membuat pembaru yang rentan tetap aktif. Meski jumlah pasti perangkat yang terancam tidak diketahui secara pasti, Eye Security mencatat telah mengirimkan lebih dari dua juta unduhan pembaruan hingga bulan Maret, sebelum akhirnya menghentikan pengiriman tersebut dan menyerahkan domain yang mereka gunakan kepada lembaga nirlaba keamanan web, Shadowserver Foundation.
Sumber: The Verge








