Sebuah perusahaan rintisan bernama Radical Numerics mengumumkan penciptaan virus buatan menggunakan kecerdasan buatan yang kemudian disuntikkan langsung ke pasien manusia guna mengobati infeksi bakteri. Terobosan ini langsung memicu perdebatan di kalangan ilmuwan global, seperti dilaporkan CNBC Indonesia pada Senin (26/10/2026).
Mekanisme Terapi Fag Berbasis AI
Perusahaan rintisan tersebut menjelaskan bahwa virus yang mereka ciptakan tidak berfungsi untuk menularkan penyakit, melainkan bertujuan membasmi bakteri yang menyerang tubuh manusia melalui metode yang dinamakan terapi fag. Terapi fag merupakan pemanfaatan virus yang secara alami menyerang bakteri guna melawan infeksi yang sudah kebal terhadap antibiotik.
Perbedaannya terletak pada proses penciptaannya yang memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan. Jika biasanya pencarian jenis virus yang tepat membutuhkan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun, pemanfaatan kecerdasan buatan membuat perancangan virus dapat dilakukan secara langsung dengan proses yang jauh lebih cepat serta sasaran yang lebih tepat.
Pro Kontra dan Pertanyaan Ilmuwan
Pengumuman tersebut menuai pro dan kontra lantaran hasil penelitian tidak dipublikasikan melalui jurnal ilmiah yang ditinjau rekan sejawat, melainkan hanya diunggah pada situs web perusahaan. Pihak Radical Numerics juga menolak membeberkan rincian mengenai pasien maupun dokter yang menangani tindakan tersebut dengan dalih menjaga kerahasiaan serta nilai komersial penemuan itu.
Michael Baym selaku ahli mikrobiologi dari Universitas Harvard menyatakan bahwa pencapaian tersebut akan sangat luar biasa apabila terbukti benar, namun ia mengaku masih merasa ragu. Ia menegaskan bahwa klaim sebesar itu wajib disertai proses peninjauan sejawat yang transparan, dapat diperiksa, serta dapat diulang oleh kelompok peneliti lain.
Teknologi ini dinilai berpotensi merevolusi dunia pengobatan dan menyelamatkan jutaan nyawa dengan melawan ribuan jenis bakteri yang kebal antibiotik apabila terbukti aman dan efektif. Kendati demikian, tanpa adanya pengawasan yang ketat, kemampuan merancang virus buatan menyimpan risiko yang belum dapat diprediksi sehingga aspek penjagaan, pemeriksaan, serta pertanggungjawaban menjadi hal yang paling utama.






