UMUM

Kebakaran Hutan Ancam Lukisan Cadas Tertua di Sulawesi

Kebakaran Hutan Ancam Lukisan Cadas Tertua di Sulawesi

Kebakaran hutan dan lahan di Sulawesi mengancam kelestarian sejumlah lukisan gua purba yang bernilai sejarah tinggi. Ancaman ini meliputi situs seni cadas dan cap tangan tertua di dunia yang usianya diperkirakan mencapai puluhan ribu tahun.

Ancaman di Maros-Pangkep dan Pulau Muna

Di kawasan gua yang terletak di Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan, terdapat karya seni cadas yang menampilkan adegan interaksi antara sosok menyerupai manusia dan seekor babi. Berdasarkan penelitian dari Griffith University, karya tersebut diperkirakan berusia setidaknya 51.200 tahun.

Sementara itu, sebuah gua di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, menyimpan cap tangan berwarna kemerahan dengan usia lebih dari 67.800 tahun. Situs ini diyakini sebagai bentuk seni cadas paling tua di dunia.

Risiko Kerusakan Akibat Karhutla

Petugas pemadam kebakaran dikerahkan untuk menjinakkan api di dekat gua Maros-Pangkep, seiring kepulan asap yang membubung di atas menara karst kawasan taman nasional dan UNESCO Global Geopark tersebut. Petugas pemadam kebakaran, Muhammad Ikfar, menuturkan bahwa si jago merah telah melalap area di sekitar gua selama lebih dari sepekan pada awal bulan ini dan merangsek hingga berjarak 800 meter dari situs.

Ikfar menyebutkan bahwa lebih dari 270 hektar wilayah taman nasional telah hangus terbakar dalam rentang waktu antara 30 September hingga 18 Oktober.

Menurut arkeolog Griffith University, Basran Burhan, seperti dilaporkan Reuters pada Sabtu (24/10/2026), panas merupakan dampak awal yang paling berbahaya bagi kelangsungan lukisan purba tersebut.

“Dampak pertama dan paling merusak adalah panas. Bahkan tanpa menyentuh lukisan secara langsung, api dapat merusak karena mengubah suhu di sekitar lukisan dan mempercepat proses korosi,” kata Basran.

Selain ancaman suhu panas, kepulan asap dari insiden kebakaran hutan ini juga meninggalkan partikel jelaga. Material tersebut berpotensi menutupi permukaan lukisan sehingga nampak buram serta sulit untuk diidentifikasi bentuknya.

Hingga hari Kamis dan Jumat lalu, tim pemadam kebakaran masih berjibaku memadamkan titik api di area lain taman nasional tersebut di tengah kondisi cuaca sekitar yang masih kering tanpa curah hujan.

“Jika kita tidak segera melakukan sesuatu, jika tidak ada upaya mitigasi taktis untuk insiden ini, kita akan kehilangan salah satu bukti sejarah manusia yang paling menakjubkan di Maros-Pangkep,” ujar Basran.

Mungkin Anda Suka