Matahari telah menjadi pusat tata surya yang menjaga stabilitas orbit planet serta suhu Bumi selama 4,6 miliar tahun. Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Rasdewita Kesumaningrum, membeberkan karakteristik bintang raksasa ini yang sangat krusial bagi kelangsungan ekosistem global dan keselamatan operasional antariksa.
Komposisi dan Reaksi Fusi Nuklir Matahari
Matahari bukanlah bola padat, melainkan wujud gas atau plasma yang suhunya melucuti elektron dari atom netral dan menyisakan lautan ion serta elektron bebas. Berdasarkan rilis resmi BRIN, Jumat (23/10/2026), massa Matahari didominasi oleh unsur Hidrogen sebesar 73 hingga 74 persen sebagai bahan bakar utama, sementara 24 hingga 25 persen sisanya adalah Helium, serta 1 hingga 2 persen unsur berat seperti oksigen, karbon, besi, nitrogen, dan silikon.
Proses pembentukan energi ini digerakkan oleh reaksi fusi nuklir di bagian inti dengan suhu mencapai 15 juta derajat Celcius. Tekanan gravitasi yang menarik plasma ke dalam dan tekanan fusi yang mendorong ke luar menciptakan keseimbangan dinamis. Reaksi peleburan empat atom hidrogen menjadi satu helium menyisakan selisih massa yang berubah menjadi energi murni, membuat Matahari mampu menyala stabil selama miliaran tahun tanpa meredup.
Energi dari inti harus melewati Zona Radiatif dan Zona Konvektif sebelum mencapai Fotosfer yang bersuhu 5.500 derajat Celcius. Menurut Rasdewita seperti dilaporkan CNBC Indonesia, pemahaman struktur ini menjadi dasar penting untuk menganalisis aktivitas Matahari serta mendukung kesiapsiagaan terhadap cuaca antariksa.
Fakta Warna Asli dan Spektrum Gelombang Matahari
Fakta mengejutkan lainnya adalah warna asli Matahari di ruang hampa angkasa yang sesungguhnya adalah putih bersih. Manusia di Bumi melihat sang surya berwarna kuning atau jingga akibat ilusi optik dari Hamburan Rayleigh, di mana atmosfer Bumi menyebarkan gelombang cahaya pendek seperti biru dan ungu saat menembus lapisan udara.
Selain cahaya tampak, Matahari juga memancarkan energi dalam bentuk gelombang elektromagnetik tak kasatmata seperti gelombang radio, gelombang mikro, ultraviolet, sinar-X, hingga sinar gamma. Para ilmuwan menggunakan instrumen pengamatan khusus dengan filter tertentu untuk memetakan beragam muka Matahari dan memantau badai matahari secara real-time demi sistem peringatan dini cuaca antariksa.







