UMUM

Harta Karun Purbakala RI Terancam Karhutla

Harta Karun Purbakala RI Terancam Karhutla
Daftar Isi
  1. Ancaman Panas dan Asap
  2. Temuan Prasejarah Berusia Puluhan Ribu Tahun
  3. Dampak Musim Kering dan El Nino

Harta karun prasejarah Indonesia yang berusia puluhan ribu tahun kini berada dalam ancaman kerusakan akibat kebakaran hutan dan lahan. Panas serta asap dari kebakaran tersebut membahayakan lukisan gua di kawasan Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan, yang tercatat sebagai salah satu karya seni tertua temuan manusia.

Ancaman Panas dan Asap

Arkeolog asal Griffith University Australia, Basran Burhan, memperingatkan bahwa paparan panas dapat merusak lukisan meskipun api tidak menjilat dinding gua secara langsung. Menurutnya, panas tersebut mengubah temperatur di sekitar karya seni dan mempercepat proses pelapukan, sebagaimana dilaporkan CNBC Indonesia.

Selain panas, ancaman lain timbul dari kepekatan asap kebakaran yang meninggalkan endapan jelaga di permukaan dinding. Asap tersebut membentuk lapisan hitam yang menutupi gambar sehingga tampilannya menjadi buram dan sukar diidentifikasi oleh pengamat.

Temuan Prasejarah Berusia Puluhan Ribu Tahun

Situs lukisan di Maros-Pangkep memperlihatkan visual sosok yang menyerupai manusia sedang berinteraksi dengan seekor babi. Kalangan peneliti dari Griffith University memperkirakan karya tersebut berumur minimal 51.200 tahun dan menjadi salah satu catatan penting mengenai evolusi seni serta kemampuan narasi manusia purba.

Penemuan bersejarah serupa juga teridentifikasi di Pulau Muna, dekat wilayah Sulawesi, berupa cap tangan berwarna kemerahan dengan perkiraan usia setidaknya 67.800 tahun. Keberadaan dua situs tersebut menempatkan kawasan Sulawesi sebagai salah satu titik sentral riset peradaban dan seni purbadala di dunia.

Dampak Musim Kering dan El Nino

Gelombang karhutla kini merambah kawasan karst yang melindungi artefak-artefak berharga tersebut. Petugas pemadam kebakaran bernama Muhammad Ikfar menuturkan bahwa kobaran api sempat berlangsung selama lebih dari sepekan pada awal bulan Oktober, dengan titik api terdekat berjarak sekitar 800 meter dari situs gua.

Ia mencatat bahwa lebih dari 270 hektare area di dalam kawasan taman nasional tersebut hangus dilalap api dalam rentang waktu 30 September hingga 18 Oktober. Peristiwa kebakaran ini dipicu oleh musim kemarau panjang yang semakin parah akibat fenomena El Nino, yang memicu kenaikan suhu sekaligus menurunkan curah hujan secara drastis di berbagai wilayah Indonesia.

Petugas pemadam kebakaran masih terus berjibaku memadamkan sisa titik api di bagian lain taman nasional pada Kamis (22/10/2026) dan Jumat. Situasi lahan yang masih kering ditambah belum turunnya hujan membuat potensi bahaya kebakaran tetap tinggi, sementara ancaman panas dan jelaga terus mengintai situs purbakala tersebut.

Mungkin Anda Suka