Stratifikasi Sosial di Lingkungan Masyarakat

Hijaz.id, Umum — Kehidupan sosial adalah kehidupan yang tidak bisa dihindari. Manusia memiliki sifat sosial sehingga hampir tidak mungkin ketika seseorang mengabaikan kehidupan sosialnya. Terdapat istilah penting ketika seseorang telah mempelajari kehidupan mereka dalam bermasyarakat.

Istilah tersebut adalah stratifikasi sosial. Istilah tersebut memiliki nama lain yang mungkin anda lebih familiar yaitu hierarki sosial.

Sebenarnya fenomena hierarki sosial bukanlah fenomena yang sulit untuk ditemukan. Fenomena tersebut bisa dikatakan sebagai fenomena yang universal, sehingga bisa ditemukan di semua kelompok masyarakat termasuk di dalam kehidupan sosial anda. Hierarki sosial ini bisa di katakan sebagai fenomena hierarki atau rangking yang terjadi antar individu maupun antar kelompok di dalam masyarakat.

Pengertian Stratifikasi Sosial

Pengertian Stratifikasi Sosial
Pengertian Stratifikasi Sosial

Seperti yang disebutkan di atas, bahwa fenomena ini ditandai dengan hierarki atau rangking antar kelompok atau antar individu. Untuk mengetahui lebih dalam, berikut ini pengertian hierarki sosial menurut Melvin Tumin.

Yaitu merupakan sebuah pengaturan kelompok masyarakat ke dalam sistem rangking yang tidak setara, berkaitan dengan kekuasaan, kepemilikan properti, evaluasi sosial dan gratifikasi.

Memiliki nada yang sama, menurut Lundberg, masyarakat yang terstratifikasi memiliki tanda sebagai berikut.

Terjadi ketidakmerataan yang bisa terlihat berdasarkan pada tinggi dan rendahnya posisi sosial seseorang di masyarakat.

Dari dua pengertian yang disebutkan oleh para ahli di atas, tentu anda sudah bisa melihat apakah fenomena ini bisa anda temukan di masyarakat anda tinggal atau tidak.

Satu hal yang perlu diperhatikan dari fenomena hierarki sosial adalah terdapat individu atau kelompok yang berada di rangking atas, dan sebaliknya kelompok atau individu tertentu terdapat di rangking bawah.

Baca Juga:   Pentingnya Teknologi Informasi Komunikasi di Dunia Pendidikan

Seperti yang disebutkan di atas, bahwa terdapat fenomena ketidakmerataan posisi sosial yang terjadi di suatu kelompok masyarakat.

Pendekatan Stratifikasi Sosial

Apabila anda ingin lebih memahami fenomena stratifikasi di lingkungan sosial tersebut, maka bisa dilakukan melalui pendekatan. Setidaknya terdapat dua pendekatan utama yang bisa dilakukan.

Kedua pendekatan utama untuk memahami hierarki sosial adalah pendekatan konflik dan pendekatan fungsionalis di bawah ini.

1. Pendekatan Konflik

Untuk menerapkan pendekatan konflik, digunakanlah teori konflik yang di cetuskan oleh Karl Marx. Berikut analisa dari Marx.

Di semua hierarki sosial, terdapat dua kelompok saja yaitu kelompok di posisi atas bernama penguasa atau a ruling class, dan kelompok bawah bernama pekerja atau a subject class.

Kedua kelompok tersebut berusaha memenuhi kepentingannya masing-masing sehingga terjadilah konflik.

Untuk lebih jelasnya, kedua kelompok besar tersebut bisa antara penguasa dan pekerja, majikan dan budak, bisa juga penindas dan yang ditindas.

Kelas penguasa diunggulkan karena memiliki kekuasaan atas faktor produksi. Sedangakan kelas pekerja tetap memiliki tenaga untuk di jual dan menjadi bagian dari proses produksi.

Kedua kelompok tersebut memiliki hubungan yang berdasarkan kepentingannya masing-masing, sehingga bersifat konflik.

Dari pendekatan di atas, dapat disimpulkan bahwa perbedaan kelas atau stratifikasi yang terjadi merupakan sumber terjadinya konflik.

Setelah mengetahui sumber konflik yang terjadi, tentu saja anda bisa mencoba mengatasi konflik yang terjadi tersebut.

Mengatasi konflik yang disebabkan oleh perbedaan kelas sosial di atas tentu saja menjadi sebuah keharusan. Konflik di atas bisa di atasi dengan upaya mengurangi kesenjangan sosial antar kelas yang terjadi.

Baca Juga:   Bhineka Tunggal Ika: Pengertian, Makna, Prinsip, dan Tujuan

Adapun solusi untuk masalah ini bisa dikatakan bersifat utopis, yaitu dilakukan dengan menghapuskan stratifikasi sosial yang terjadi di masyarakat.

2. Pendekatan Fungsionalis

Berbeda dari pendekatan konflik, pendekatan fungsionalis ini merupakan hasil dari sebuah proses elaborasi. Terinspirasi dari Emile Durkheim, kemudian berhasil di elaborasikan secara sistematis oleh Talcott Parsons.

Menurut Panrsons, dia percaya bahwa kesepakatan bersama menjadi sesuatu yang mendasari terciptanya tatanan, stabilitas, dan kerjasama di dalam masyarakat.

Tetapi keputusan bersama yang dimaksud di atas adalah keputusan yang berdiri di atas sesuatu yang paling bernilai dan yang terbaik untuk kepentingan bersama secara keseluruhan.

Dengan pendekatan ini, sistem stratifikasi dapat diturunkan berdasarkan pada nilai yang diikuti secara bersama oleh masyarakat yang kemudian diikuti oleh evaluasi pada setiap individu.

Dengan sistem stratifikasi di atas, sistem hierarki yang terjadi pada setiap individu dapat terjadi perbedaan kelas yang dapat ditemukan pada dua hal, yaitu usaha masing-masing individu dan evaluasi dari masing-masing usaha tersebut.

Menurut Talcott Parsons, perbedaan kelas yang terjadi di masyarakat tersebut mampu mempertahankan fungsi sosial karena memiliki fungsi masing-masing atau bersifat fungsionalitas.

Bentuk-Bentuk Stratifikasi Sosial

Terdapat beberapa bentuk hierarki sosial yang bisa anda simak di bawah ini:

1. Perbudakan

Bentuk hierarki sosial yang pertama bernama perbudakan. Mungkin anda sudah tidak lagi menemukan bentuk hierarki sosial yang satu ini, tetapi dapat dikatakan bahwa bentuk yang satu ini adalah yang paling ekstrem.

Perbudakan dilakukan dimana posisi individu dapat turun hingga individu bisa menjadi properti bagi individu lain dan juga diperbolehkan untuk menggunakan kekerasan.

Dengan kata lain, majikan adalah pemilik budak. Dia memiliki hak penuh dan boleh melakukan apa saja pada budak yang dimilikinya tersebut, bahkan melakukan tindakan kekerasan sekalipun.

Baca Juga:   Teks Negosiasi: Pengertian, Tujuan, Ciri-ciri, dan Struktur

Sebaliknya, budak berada di posisi yang paling bawah dan tidak memiliki kebebasan apapun karena statusnya tersebut.

2. Feodalisme

Feodalisme merupakan bentuk stratifikasi yang bisa terjadi di kelompok sosial. Seperti pada bentuk hierarki sosial lainnya, terdapat perbedaan rangking untuk kelompok atau individu.

Pada bentuk feodalisme, terdapat tidak tingkatan, yaitu tingkatan bangsawan, pemuka agama atau pendeta, dan rakyat jelata.

Bangsawan adalah tingkatan paling atas, yang memiliki kekuasaan atas semua properti dan dia memiliki hak untuk mempertahankannya.

Tingkatan pemuka agama atau pendeta menjadi kelompok yang mendoakan apa yang dimiliki oleh bangsawan. Sedangkan di tingkatan paling bawah yaitu rakyat jelata, merupakan kelompok yang menyediakan makanan untuk semua.

3. Kasta

Merupakan bentuk hierarki sosial yang erat kaitannya dengan agama Hindu. Terdapat empat kasta yang dominan yaitu Brahmana yang memiliki tingkatan tertinggi, kemudian diikuti kasta Ksatria, Waisya, dan Sudra.

4. Kelas

Hierarki sosial dalam bentuk kelas adalah sistem stratifikasi yang dilakukan dengan menempatkan individu berdasarkan kepemilikan faktor produksi.

Menurut Ogburn dan Nimkoff, individu dapat menempatkan diri di tingkatan status sosial tertentu berdasarkan kelas yang dimiliki.

Sebagai contohnya, individu dapat menaikkan kelasnya berdasarkan kemampuan finansial atau tingkat pendidikan yang dimiliki.

Stratifikasi sosial sudah menjadi fenomena yang terjadi sejak zaman dahulu. Sangat mudah untuk menemukan fenomena tersebut di kehidupan sosial saat ini.

Tetapi, diantara bentuk hierarki sosial terset, tidak semua bersifat terbuka. Salah satu hierarki sosial yang bersifat tertutup adalah sistem Kasta.

Bentuk hierarki terbuka mungkin adalah bentuk stratifikasi yang paling mudah anda temui.