Cara Menentukan Perbedaan DNA dan RNA

Hijaz.id, Wawasan — DNA dan RNA seringkali digunakan dalam dunia medis. Karena seringnya digunakan dalam satu kesatuan kalimat, tak banyak orang yang menyadari perbedaan DNA dan RNA ini. Padahal, walaupun sama-sama organel sel pembentuk kehidupan bagi sebuah organisme, keduanya tetaplah memiliki perbedaan yang signifikan. Untuk lebih jelasnya, pelajari uraian di bawah ini.

Pengertian DNA dan RNA

Pengertian DNA dan RNA
Pengertian DNA dan RNA

Secara umum, DNA dan RNA merupakan cetak biru kehidupan suatu organisme. Keduanya merupakan rangkaian asam amino yang memiliki fungsi untuk menjadi tempat penyimpanan informasi biologis dari sebuah organisme hidup.

Keduanya terbentuk dari makromolekul sederhana yang saling bekerja sama dalam proses sintesis protein.

Meski sekilas nampak sama, namun DNA dan RNA merupakan dua zat yang benar-benar berbeda.

Ditilik dari akronim yang disandangnya DNA merupakan Deoxyribo Nucleic Acid alias Asam Deoksiribosa Nukleat. Sementara RNA adalah akronim dari Ribonucleic Acid alias Asam Ribosa Nukleat.

Jika ditelaah lebih jauh, DNA merupakan gugus asam amino rantai ganda yang memiliki peranan untuk mengendalikan aktifitas genetis dan sintesis protein menggunakan 3 kandungannya basa nitrogen yang dimilikinya yakni fosfat, pirimidin, dan purin.

Sementara peran RNA sebatas pada sintesis protein. Kandungannya juga hanya mencakup 2 jenis basa nitrogen, yakni pirimidin dan purin.

Perbedaan DNA dan RNA dari Segi Fungsional

Dalam hal fungsinya sebagai molekul yang memiliki peranan inti pada organisme, perbedaan DNA dan RNA sangat terlihat nyata.

DNA adalah sejenis biomolekul yang memiliki peranan dalam menyimpan dan menyandikan instruksi genetika yang ada pada setiap organisme/ makhluk hidup.

DNA ini akan membentuk kromosom-kromosom dan beberapa informasi genetik agar tetap tersimpan dalam tubuh organisme.

Secara lebih spesifik, fungsi DNA dapat diuraikan sebagai berikut;

  1. Membawa materi genetika antar generasi (dari generasi awal ke generasi berikutnya)
  2. Mengontrol kehidupan organisme, baik secara langsung maupun tidak langsung
  3. Sebagai agen autokatalis yang mampu menggandakan diri
  4. Sebagai agen heterokatalis, yakni melakukan sintesis terhadap senyawa lain

Sementara peranan RNA adalah sebagai molekul polimer yang aktif terlibat dalam peran-peran biologis seperti mengkode, decode, meregulasi dan mengekspresi sebuah gen.

Secara ringkas, RNA merupakan sebuah makromolekul dengan fungsi utama sebagai media penyimpan dan penyalur informasi genetik.

Lebih, lanjut, fungsi utama RNA adalah sebagai berikut;

  1. Sebagai media penyimpan informasi
  2. Media perantara antara DNA dan protein dalam proses ekspresi genetik dalam organisme hidup

Perbedaan DNA dan RNA dari Segi Letak, Bentuk dan Ukuran

Dari sisi letak molekulnya, DNA dan RNA memiliki perbedaan yang cukup signifikan. DNA biasanya hanya ditemukan pada inti sel, seperti di kloroplas, mitokondria ataupun nucleus.

Sementara itu, RNA umumnya dapat ditemukan dalam beberapa sel yakni di ribosom (r-RNA), sitoplasma (t-RNA), dan nucleus (m-RNA).

Dari sisi bentuk, kedua jenis zat ini juga dapat terlihat perbedaannya, seperti telah dipaparkan di atas, DNA merupakan gugus asam amino dengan rantai ganda.

Di sisi lain, RNA merupakan gugus asam amino rantai tunggal. Perbedaan ini turut mempengaruhi bentuk fisik keduanya.

DNA umumnya berbentuk lebih panjang dengan penampakan agak membulat. Sementara RNA memiliki ukuran lebih pendek dan bentuknya lebih tipis.

Perbedaan DNA dan RNA dari Kandungan Gula dan Jenis Basa Nitrogen di Dalamnya

Perbedaan DNA dan RNA secara jelas terlihat dari kandungan gula yang berbeda. DNA terbentuk dari gugus gula Deoksiribosa.

Gula yang memiliki nama kimia 2-deoksiribosa ini merupakan monosakarida yang terbentuk dari gula ribosa tanpa atom oksigen karena hilang selama prosesnya.

Sementara RNA tersusun atas gula ribosa atau D-ribosa alias aldopentosa yang merupakan sebuah monosakarida dengan 5 atom karbon dan tergolong gugus fungsional aldehida dalam bentuk linearnya.

Telah dipaparkan di paragraf sebelumnya bahwa DNA dan RNA memiliki kandungan basa nitrogen yang berbeda.

Secara spesifik, DNA mengandung tiga jenis basa nitrogen yang berbeda, yakni purin (gabungan adenin dan guanin), piramidin (gabungan sitosin dan timin), dan gugus fosfat.

Sementara itu, RNA hanya memiliki dua jenis basa nitrogen di dalamnya, yakni purin (gabungan adenin dan guanin) dan piramidin (gabungan sitosin dan urasil).

Menentukan Perbedaan DNA dan RNA

Berdasarkan penelitian dan analisis yang dilakukan oleh Frutan dan Sofia yang dipublikasikan di tahun 1968 silam, terdapat beberapa cara yang bisa ditempuh untuk menentukan DNA dan RNA dalam sebuah organisme hidup.

Menggunakan Jaringan Hewan dan Alkali Hangat

Cara pertama yang bisa dilakukan adalah dengan memanfaatkan jaringan hewan dan alkali hangat.

Hasilnya akan terlihat dengan jelas perbedaan DNA dan RNA di dalamnya. RNA yang terkandung dalam organisme tersebut akan terpecah menjadi komponen-komponen nukleotida yang akan larut dalam asam.

Sementara DNA akan tetap utuh karena sulit dipecah dan dirusak oleh alkali yang digunakan.

Hasil ini mengindasikan sifat yang dimiliki DNA dan RNA sangatlah berbeda. Tetap utuhnya DNA dalam organisme yang diteliti menunjukkan bahwa sifat dan kadar DNA dalam sebuah organisme adalah statis dan permanen, serta tak berubah.

Sementara RNA memiliki periode pendek dan tak statis karena sifatnya yang mudah terurai.

Metode Schnider

Kandungan DNA dapat diuji dengan menganalisis reaksi kalorimetri dengan memanfaatkan difenilanin.

Hipotesa awal memperkirakan bahwa difenilanin ini akan memberikan efek tertentu pada jaringan dan asam trikloro asesat panas. 

Difenilanin akan bereaksi dengan purin dioksiribosa yang mengindikasikan DNA organisme tersebut. Di sisi lain, zat ini tak akan bereaksi dengan purin ribosa, yang menunjukkan RNA pada organisme.

Metode Feligen

Metode Feligen menggunakan senyawa bernama Fuchsin sulfurous acid untuk mendeteksi dan membedakan DNA dan RNA pada suatu organisme makhluk hidup.

Zat ini akan bereaksi dengan mengubah warna menjadi merah ketika bersentuhan dengan DNA, namun tak bereaksi sama sekali dengan RNA. Reaksi ini diaplikasikan guna mempelajari distribusi RNA dan DNA dalam bagian-bagian sel.

Secara Spektroskopi

Penentuan DNA dan RNA juga bisa diteliti secara spektroskopi. Metode ini mengandalkan pengukuran absorbs cahaya oleh DNA dan RNA pada titik 260 nm.

Di titik ini spectra cincin purin dan pirimidin asam nukleat akan terlihat secara maksimal.

Setelah membaca pembahasan mengenai pengertian dan perbedaan DNA dan RNA secara singkat dan ringkas di atas, kini Anda sudah mulai mengerti bukan?

Semoga artikel ini bermanfaat bagi Anda agar lebih memahami perbedaan di antara keduanya.