Baterai mobil listrik atau electric vehicle (EV) memiliki ketahanan yang baik, tetapi bukan berarti kebal terhadap kerusakan. Sebuah studi dari perusahaan pelacakan dan manajemen armada Geotab menunjukkan bahwa berbagai faktor dapat memengaruhi tingkat degradasi baterai mobil listrik seiring berjalannya waktu.
Tentang Studi Degradasi Baterai
Geotab telah menerbitkan studi mengenai degradasi baterai mobil listrik sejak tahun 2020. Untuk riset edisi April 2026, mereka menganalisis lebih dari 22.700 unit mobil listrik yang mencakup 21 model berbeda menggunakan data telematika dunia nyata yang ditarik langsung dari kendaraan. Data yang diagregasi dan dirata-rata ini menunjukkan bahwa tingkat degradasi tahunan rata-rata untuk mobil listrik berada di angka sekitar 2,3 persen. Penurunan kapasitas ini dapat memengaruhi jarak tempuh berkendara, performa mobil, hingga nilai jual kembalinya di masa mendatang.
Penyebab Kerusakan Baterai Mobil Listrik
Salah satu pemicu utama penurunan kapasitas baterai adalah penggunaan pengisian daya cepat arus searah atau DC fast charging (DCFC). Berdasarkan laporan Engadget, Ford menjelaskan bahwa metode pengisian ini sangat membantu ketika pengemudi harus segera kembali berkendara, seperti saat melakukan perjalanan jauh, karena mampu mengisi baterai hingga sekitar 80 persen dalam waktu antara 20 menit hingga satu jam.
Kendati demikian, studi tersebut menemukan bahwa mobil listrik yang lebih sering menggunakan DCFC mengalami penurunan kapasitas baterai lebih cepat. Pemilik kendaraan yang mengandalkan pengisian cepat untuk 12 persen atau lebih dari total sesi pengisian daya mereka mencatat tingkat degradasi tahunan sebesar 2,5 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan 1,5 persen bagi mereka yang jarang menggunakan pengisian cepat.
Selain frekuensi, daya pengisian juga memegang peranan penting dalam kesehatan baterai. Kendaraan yang sering melakukan pengisian daya di atas 12 persen dari total sesi dengan tingkat daya tinggi melebihi 100 kW pada lebih dari 40 persen sesi mengalami tingkat degradasi tahunan sekitar 3 persen. Sebagai perbandingan, tingkat degradasi pada penggunaan daya rendah berfrekuensi tinggi tercatat sebesar 2,2 persen dan hanya 1,5 persen untuk frekuensi rendah.
Faktor lingkungan seperti suhu udara turut memengaruhi masa pakai baterai kendaraan. Suhu panas memicu peningkatan aktivitas kimiawi yang berujung pada tekanan lebih besar di dalam sel baterai. Meskipun mobil listrik dilengkapi sistem manajemen internal untuk mengatur suhu, studi mencatat bahwa kendaraan di iklim yang lebih panas—dengan lebih dari 35 persen hari bersuhu 77 derajat Fahrenheit atau lebih—mengalami degradasi 0,4 persen lebih cepat dibandingkan kondisi yang lebih sejuk.





