Menteri Pertanian yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman mengungkapkan adanya negara tetangga yang meminta pasokan beras dari Indonesia. Hingga saat ini, pemerintah masih merahasiakan identitas negara tersebut sambil menunggu surat resmi tiba.
Permintaan Pasokan dan Target Ekspor
Menurut keterangan Andi Amran Sulaiman di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, pada Selasa (27/10/2026), terdapat satu negara yang meminta pasokan beras dengan volume mencapai 500 ribu ton, seperti dilaporkan Liputan6.com. “Ada yang sudah menelepon saya, tetapi surat resminya belum tiba. Mereka minta 500.000 ton. Soal negaranya, itu masih rahasia. Nanti kalau suratnya sudah saya terima, baru akan saya beri tahu,” ujar Amran.
Ia menyatakan belum bisa memastikan jadwal pengiriman karena masih menunggu pemrosesan dokumen resmi. “Nanti kalau suratnya tiba, langsung kita ekspor kembali. Stok beras kita banyak,” tegasnya.
Pada kesempatan yang sama, Amran memastikan bahwa Indonesia kini sudah menghentikan impor beras medium. “Tidak ada lagi impor beras medium. Yang ada itu barang selundupan dan sudah ditangkap,” kata Amran.
Sebelumnya, pemerintah sempat menjajaki tiga negara sebagai tujuan ekspor beras, yakni Filipina, Timor Leste, dan Papua Nugini. Penjajakan ini dilakukan untuk memperluas jangkauan pasar luar negeri setelah Malaysia, meskipun volume pasti pengiriman ke tiga negara tersebut belum diputuskan.
Pencapaian Swasembada Pangan
Indonesia sebelumnya telah mengirimkan sekitar 1.000 ton beras ke Malaysia sebagai bagian dari kontrak berjangka yang mencapai 500 ribu ton. Pengiriman perdana beras premium ke wilayah Sarawak tersebut menandai kembalinya status Indonesia sebagai negara pengekspor beras.
Apresiasi atas pencapaian ini turut disampaikan oleh Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo. Ia menilai keberhasilan ekspor beras tersebut sebagai momen bersejarah setelah Indonesia absen mengekspor selama 42 tahun.
“Sudah diputuskan ada kontrak 500 ribu ton beras yang diekspor Indonesia ke Malaysia. Kontraknya sangat menguntungkan, dan Indonesia resmi menjadi negara pengekspor beras kembali setelah 42 tahun,” jelas Hashim.







