Dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anha, “bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam pernah masuk ke pasar melalui jalan yang tinggi dengan diikuti orang banyak di kanan kiri beliau. Kemudian beliau menemukan seekor anak kambing yang mati dengan kedua telinga yang kecil. Setelah itu beliau mengangkat anak kambing itu dengan beliau pegang telinganya seraya bertanya, “Siapakah di antara kalian yang mau membeli kambing ini seharga satu dirham?” Orang-orang menjawab, “Tentu kami tidak ingin membelinya ya Rasulullah. Untuk apa membeli kambing yang telah menjadi bangkai.” Beliau bertanya lagi, “Apakah ada di antara kalian yang ingin memilikinya tanpa harus membeli?” Mereka menjawab, “Demi Allah, seandainya kambing itu masih hidup, maka kambing tersebut cacat, yaitu telinganya yang kecil. Terlebih lagi kini ia telah menjadi bangkai.”
Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam bersabda, “Demi Allah, sungguh dunia itu di sisi Allah nilainya lebih hina daripada hinanya bangkai anak kambing ini di mata kalian.”
Terlalu banyak manusia yang tertipu oleh rupa kenikmatan dunia. Habis sebagian besar usianya hanya untuk mencari dan mengejar-ngejar kebahagiaan fana, keadaan yang mutlak sementara.
Hingga banyak pula di antara kita yang lupa jika suatu massa akan pulang ke rumah selamanya.
Tempat di mana sesungguhnya manusia akan kekal mengabadi. Tempat yang semestinya lebih utama kita persiapkan kenikmatannya dari hanya sekadar godaan dinuawi.
Tidak perlu menengok kanan atau kiri, tengoklah jauh ke dalam diri masing-masing kita. Adakah kita mencintai dunia ini melebihi cinta kita pada Allah dan Rasul-Nya?
Adakah kita lebih mengutamakan kehidupan dunia dari masa depan kelak di akhirat?
Adakah kita semasa hidup lebih banyak menghabiskan waktu untuk berkutat pada urusan-urusan kehidupan sesaat, hingga banyak lalai untuk mencari bekal menuju perjumpaan agung dengan Sang Ilahi Rabbi?
Sebagaimana tercantum jelas pada hadist di atas, bahwa yang selama ini kita cintai, kita utamamakan, kita kejar-kejar, tidaklah lebih baik dari bangkai seekor kambing.
Sungguh sebuah ketegasan yang semestinya menusuk hati kita, menggugah diri untuk seketika introspeksi. Bahwa apalah berartinya mengejar-ngejar sesuatu yang kedudukannya lebih hina dari bangkai di sisi Allah.
Maka lebihlah dari sia-sia bagi Allah, manusia-manusia yang semasa hidup hanya memikirkan urusan perutnya semata, urusan kecukupan harta, kedudukan bertahta, tanpa menyeimbangkannya dengan sebaik-baik hamba yang bertaqwa.
Jelas tegas Allah memfirmankan di dalam sejumlah ayat Al-Qur’an, jika yang bernilai di sisi-Nya hanya taqwa. Tiada lain meski harta bertumpuk bak samudera.
Tak mampu membeli nilai ketaqwaan meski emas setinggi Himalaya. Maka apa yang sesungguhnya kita cari di dunia? Maka apa yang semestinya lebih kita utamakan semasa tinggal di dunia?
Maka apa yang sepantasnya lebih kita kejar-kejar selain kenikmatan fana dan tipu daya?
Sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari menegaskan, ““Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau bahkan seperti orang yang sekedar lewat (musafir).”
Sebagaimana musafir, maka tujuan utama kita ialah negeri nan jauh di sana.
Selagi belum sampai, tetaplah kita seorang pejalan kaki yang sesekali mampir makan, mampir minum – numpang mencari nafkah untuk kebutuhan selama perjalanan.
Diterima sebagai apa pun kita semasa perjalanan, hakikat tujuan tetaplah sama. Sebab waktu akan memastikan sampainya kita pada tujuan sesungguhnya.
Janganlah terlalu tergila-gila pada dunia. Hiduplah secukupnya. Pahamilah jika segala sesuatu yang dititipkan saat ini pada kita, hakikatnya adalah diberikannya kesempatan oleh Allah untuk melebihkan amal ibadah sebagai bekal kelak di hadapan-Nya.
Sungguh tiada yang sama sekali berarti apa pun yang kita miliki selama hidup di dunia, selain apa-apa yang telah kita titipkan kepada-Nya.
Tiada yang mampu menolong kehidupan kita di alam setelah dunia, selain amal kebaikan yang senantiasa kita upayakan semasa diberi kehidupan.
Karena itulah sebagian besar ulama, orang-orang yang teramat memahami hakikat berkehidupan sangat paham jika harus meletakkan dunia di genggamannya, dan bukan di hatinya.
Mereka teramat memaklumi jika ada sebagian dari kenikmatan dunia yang hilang dan diambil Sang Empunya.
Tetapi sebaliknya, begitu sangat khawatirnya mereka jika ada sedikit saja nilai-nilai iman yang luntur dari dalam hatinya.
Sungguh perumpamaan Yahya dalam hadist riwayat Imam Muslim, bahwa perumpamaan dunia dibandingkan akhirat hanya seperti seseorang yang mencelupkan jarinya ke laut, lalu hendaklah ia melihat apa yang dibawa oleh jarinya itu.