Daftar Isi
Frank Wang mengubah penolakan dari dua universitas bergengsi di Amerika Serikat menjadi jalan kesuksesan dengan mendirikan raksasa drone asal China, DJI, dan menjadi miliarder teknologi termuda di Asia. Pria berusia 46 tahun tersebut sempat ditolak Massachusetts Institute of Technology dan Stanford University sebelum masuk ke Hong Kong University of Science and Technology, tempatnya merintis bisnis.
Perjalanan Awal dan Mentor
Lahir di Hangzhou, Wang terpikat mesin terbang sejak kecil dan gemar membaca buku tentang model pesawat. Pada usia 16 tahun, ia menerima helikopter pengendali jarak jauh sebagai hadiah atas nilai ujiannya yang bagus. Meski memiliki ketertarikan mendalam di bidang teknik, ia kesulitan secara akademis dan gagal masuk universitas impiannya di Amerika Serikat. Sebagai gantinya, ia masuk ke Hong Kong University of Science and Technology pada tahun 2003 untuk mempelajari teknik elektro dan komputer.
Pada tahun terakhirnya, ia mencurahkan waktu mengembangkan sistem kendali penerbangan helikopter. Meski sistem itu gagal berfungsi sesaat sebelum presentasi tugas akhir, kegigihannya membuat profesor robotika Li Zexiang terkesan, yang kemudian menjadi mentor sekaligus investor awal DJI. Wang lulus pada tahun 2006 dan meraih gelar magister dari universitas yang sama pada tahun 2011. Pada Januari 2026, kampus tersebut memberikan penghargaan kepada Wang sebagai alumni teknik berprestasi.
“Saya tidak akan meraih pencapaian saya hari ini jika tak datang ke Hong Kong. Dan saya juga tidak akan mendirikan DJI jika tetap tinggal di China Daratan atau pergi ke AS,” ucap Wang.
Mendirikan DJI dan Terobosan Phantom
Pada 2006, Wang mendirikan DJI bersama dua teman dari sebuah apartemen di Shenzhen menggunakan sisa uang beasiswa. Ia mengembangkan sistem kendali penerbangan yang membantu pesawat tak berawak terbang dengan stabil. Awalnya, DJI menjual sistem tersebut kurang lebih USD 6.000 per unit kepada pelanggan seperti universitas dan perusahaan listrik.
“Saya tidak tahu seberapa besar pasar ini nantinya. Ide kami awalnya hanyalah membuat produk, menghidupi 10 hingga 20 orang, dan memiliki sebuah tim,” ujar Wang seperti dilaporkan Forbes.
Perusahaan sempat menghadapi kesulitan pada masa awal akibat perselisihan manajemen dan kompensasi yang menyebabkan hampir seluruh anggota tim mengundurkan diri dalam waktu dua tahun. Wang mengakui gaya manajemennya yang banyak menuntut turut menjadi pemicu. Terobosan besar DJI baru tiba pada Januari 2013 lewat peluncuran Phantom, drone yang mempermudah konsumen awam melakukan fotografi udara dengan harga USD 679 yang lebih terjangkau dibandingkan drone rakitan seharga lebih dari USD 1.000. Kesuksesan ini mendorong pendapatan DJI tumbuh lima kali lipat.
Ketika pesaing berusaha mengejar, DJI memperpanjang durasi penerbangan dari sekitar 10 menit pada model pertama menjadi 28 menit pada versi berikutnya, serta memperkenalkan kamera bawaan dan pengendali jarak jauh berlayar. Pada 2015, DJI menguasai sekitar 70 persen pasar drone konsumen dengan 70 persen penjualannya berasal dari luar Asia. Dalam dekade berikutnya, perusahaan berekspansi ke sektor pertanian, inspeksi industri, dan pembuatan film.
Dominasi Global dan Tantangan Regulasi
Ekspansi pesat tersebut menjadikan Wang sebagai miliarder drone pertama di dunia dan miliarder teknologi termuda Asia pada 2017 di usia 36 tahun dengan kekayaan USD 3,2 miliar. Dua dekade setelah didirikan, DJI menguasai 73 persen pasar kamera pintar global pada kuartal kedua 2026, menurut IDC, serta memiliki lebih dari 14.000 karyawan dengan operasional di benua Amerika, Eropa, dan Asia. Berdasarkan catatan Forbes pada 15 Oktober, kekayaannya diperkirakan mencapai USD 6,2 miliar dan menempati peringkat ke-92 daftar orang terkaya di China tahun 2025.
Kendati demikian, dominasi global DJI memicu tantangan regulasi, terutama di Amerika Serikat. Pada 2022, DJI dimasukkan ke dalam daftar perusahaan militer China oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat, sebuah label yang dibantah keras oleh pihak perusahaan, sementara bisnis mereka terus berjalan dengan mengembangkan produk baru dan memperluas pasarnya.
Sumber: Inet - Detikcom







