Ukraina kini memiliki koneksi stabil ke Starlink setelah militernya mengalami pembatasan konektivitas selama beberapa hari pada jaringan internet satelit tersebut. Imbas insiden ini, Kyiv memutuskan untuk mencari alternatif lain dengan menggandeng perusahaan teknologi asal Finlandia, Nokia.
Kerja Sama Baru dan Reaksi Pemimpin
Kementerian Pertahanan Ukraina telah menandatangani surat pernyataan minat untuk mengembangkan kapabilitas pertahanan dan komunikasi satelit baru yang bermitra dengan Nokia serta perusahaan pembuat satelit, ICEYE, seperti dilaporkan Inet – Detikcom. Ukraina sebelumnya mengandalkan Starlink dan versi khusus militernya, Starshield, untuk mengendalikan drone dan operasi militer lainnya, namun pekan lalu menuduh Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah menyuruh pemilik Starlink, Elon Musk, untuk memberlakukan pembatasan pada jaringan tersebut.
Hal ini menyebabkan drone sempat kehilangan koneksi saat melaju dengan kecepatan 161 km/jam atau lebih. Trump membantah telah melakukan hal tersebut sebelum akhirnya mengatakan bahwa Musk telah mengembalikan koneksi seperti semula. Menteri Pertahanan Yevhenii Khmara menyatakan bahwa kecepatan lebih dari 400 km/jam kini dimungkinkan di jaringan tersebut, yang menunjukkan kapabilitas penuh telah dipulihkan. Terkait langkah diversifikasi ini, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menegaskan bahwa peperangan modern membuktikan komunikasi yang dapat diandalkan adalah masalah keamanan nasional dan semua pihak harus mengandalkan kapabilitas yang dapat dikendalikan sendiri.
Tantangan dan Alternatif Global
Zelenskyy turut mengumumkan kemitraan dengan Norwegia untuk mengembangkan sistem pertahanan udara dan komunikasi sebagai alternatif Starshield. Kendati demikian, CEO perusahaan modal ventura Space Capital, Chad Anderson, menuturkan bahwa alternatif semacam itu mungkin baru akan terwujud dua hingga tiga tahun lagi, sementara untuk menyamai skala Starlink akan memakan waktu lebih panjang karena SpaceX selaku pemiliknya memiliki sekitar 11.000 satelit di orbit. Anderson menambahkan bahwa Starshield mungkin akan menjadi layanan yang lebih sulit lagi untuk digantikan karena dokumen kontrak Pentagon menyebut SpaceX adalah satu-satunya penyedia yang dapat memenuhi beberapa kebutuhan mereka hingga 2026, dengan kendala utama terletak pada peluncuran, bukan modal.
Baik pemerintahan Trump maupun CEO SpaceX Elon Musk menghindari tanggung jawab atas perubahan mendadak layanan Starlink yang dilaporkan Ukraina tersebut. Sejumlah anggota parlemen AS dari kedua partai mendesak adanya penyelidikan resmi terhadap Musk dan SpaceX terkait dugaan perubahan sepihak pada layanannya di Ukraina. Peneliti senior di Brookings, Jay Shambaugh, berpendapat bahwa perubahan tiba-tiba pada Starlink merupakan bagian dari pola semenjak Trump kembali menjabat, di mana AS bertindak sebagai sekutu yang tidak dapat diandalkan, yang Shambaugh peringatkan dapat menurunkan ekspor AS ke Uni Eropa jika mereka tidak ingin bergantung pada sesuatu yang bisa diputus sewaktu-waktu.
Sejumlah pesaing Starlink saat ini sudah bermunculan, termasuk Leo milik Amazon, Eutelsat dari Prancis, serta layanan mendatang dari Blue Origin milik Jeff Bezos bernama TeraWave. Di luar Ukraina, beberapa negara menjajaki sistem komunikasi satelit sendiri seperti Uni Eropa yang membangun IRIS², sebuah konstelasi yang terdiri dari ratusan satelit, meskipun peluncuran pertamanya diperkirakan baru terjadi pada 2029. Berdasarkan riset Anderson, sejak invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022, para investor telah menggelontorkan sekitar USD 8 miliar untuk mendanai alternatif pengganti Starlink dan Starshield, di mana sekitar USD 3,9 miliar mengalir ke pihak yang berpotensi menjadi pesaing Starlink dan sebagian besar masuk ke Spacesail serta China SatNet. Analis senior kebijakan pertahanan dari Project on Government Oversight, Virginia Burger, menilai bahwa masalah yang ada saat ini adalah belum adanya alternatif pengganti yang langsung setara untuk Starlink.
Sumber: Inet - Detikcom







