INTERNET

Ancaman Kabel Bawah Laut Iran Bisa Lumpuhkan Internet Dunia

Ancaman Kabel Bawah Laut Iran Bisa Lumpuhkan Internet Dunia
Daftar Isi
  1. Rencana Target Infrastruktur Vital
  2. Tekanan Terhadap Investor dan Raksasa Teknologi
  3. Dampak Potensial Terhadap Lalu Lintas Data

Ketegangan yang kian memanas di kawasan Timur Tengah kini mengancam stabilitas jaringan internet global. Berdasarkan laporan Tech – Berita AI, Gadget, Teknologi dan Sains – CNBC Indonesia (cnbcindonesia.com), Teheran dikabarkan telah menyiapkan strategi untuk membidik infrastruktur kabel komunikasi bawah laut di kawasan Teluk apabila Amerika Serikat beserta Israel melancarkan serangan militer lanjutan ke wilayah mereka.

Rencana Target Infrastruktur Vital

Dua pejabat senior keamanan Iran menyampaikan kepada Reuters bahwa jaringan vital tersebut menjadi target utama dalam skenario konflik terbuka, khususnya jika jalur diplomasi dengan Washington gagal tercapai. Teheran bahkan berniat untuk menghalangi proses perbaikan pascapengrusakan guna memperpanjang durasi pemadaman koneksi internet serta melumpuhkan sistem komunikasi di kawasan tersebut.

Salah satu pejabat senior Iran menegaskan bahwa tidak ada lagi batasan atau garis merah jika negara mereka diserang, mulai dari pangkalan militer hingga kabel bawah laut. Pihaknya memperingatkan pemerintah Washington agar tidak bermain-main karena mengklaim memiliki akses penuh untuk merusak kabel-kabel tersebut dengan mudah.

Pernyataan itu diperkuat oleh Wakil Kepala Bidang Politik Garda Revolusi Iran (IRGC), Yadollah Javani. Ia menyebutkan bahwa setidaknya tujuh kabel internet utama yang membentang di bawah Selat Hormuz berada dalam bidikan utama apabila infrastruktur Iran menjadi sasaran serangan musuh.

Tekanan Terhadap Investor dan Raksasa Teknologi

Langkah ekstrem ini diartikan sebagai strategi penekanan terhadap Gedung Putih melalui negara-negara sekutu di Teluk. Sejumlah negara seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab saat ini tengah menggelontorkan investasi masif di sektor kecerdasan buatan serta teknologi demi mengurangi ketergantungan ekonomi pada sektor minyak.

Analis dari Middle East Institute, Alex Vatanka, menjelaskan bahwa ancaman tersebut dirancang secara khusus untuk menimbulkan ketakutan di kalangan investor serta perusahaan teknologi raksasa asal Amerika Serikat yang beroperasi di wilayah Timur Tengah.

Permusuhan Iran terhadap perusahaan teknologi AS sendiri bukan tanpa rekam jejak. Pada bulan Maret lalu, serangan Iran sempat mengenai dua fasilitas Amazon Web Services di Uni Emirat Arab serta merusak infrastruktur dekat fasilitas di Bahrain, sementara IRGC juga melabeli perusahaan seperti Microsoft, Google, Apple, dan Nvidia sebagai target militer yang sah.

Dampak Potensial Terhadap Lalu Lintas Data

Secara global, sekitar 99 persen lalu lintas data internet ditopang oleh jaringan kabel bawah laut. Apabila sabotase massal benar-benar terjadi, para analis memperingatkan munculnya berbagai gangguan mulai dari perlambatan bandwidth, kelumpuhan transaksi keuangan, terganggunya perdagangan elektronik, hingga matinya layanan komputasi awan.

Meski demikian, Direktur Riset TeleGeography, Alan Mauldin, menilai bahwa dampak destruktif dari wilayah Selat Hormuz kemungkinan masih bersifat regional. Kapasitas data yang melintas melalui Selat Hormuz tercatat mencakup kurang dari satu persen dari total bandwidth internasional.

Bahaya yang jauh lebih besar justru diidentifikasi berada di kawasan Laut Merah, yang menjadi jalur penghubung penting bagi lalu lintas data antara Eropa, Asia, dan Afrika Timur. Jalur Laut Merah menampung sekitar tiga persen permintaan data global dan sepuluh persen lalu lintas antarwilayah, di mana krisis global skala masif dapat terjadi jika Iran melibatkan kelompok Houthi di Yaman untuk mengganggu rute tersebut.

Para ahli menambahkan bahwa upaya pemulihan koneksi di tengah situasi perang akan menemui kendala besar akibat lonjakan biaya asuransi serta kerumitan perizinan perairan teritorial yang membuat proses perbaikan memakan waktu sangat lama.

Mungkin Anda Suka