Daftar Isi
Batuan dan mineral di alam menyimpan rekaman data kompleks mengenai proses perubahan bumi dari jutaan hingga puluhan juta tahun lalu. Hal tersebut diungkapkan oleh Isyqi, peneliti dari Fungsi Pemrosesan Koleksi Ilmiah Kawasan Konservasi Ilmiah (KKI) Geodiversitas Sukendar Asikin, Direktorat Pengelolaan Koleksi Ilmiah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Koleksi Geomaterial di Kebumen
KKI Geodiversitas BRIN yang berpusat di Karangsambung, Kebumen, Jawa Tengah, aktif mengelola sebanyak 852 koleksi geomaterial. Rincian koleksi tersebut terdiri atas 231 batuan beku, 328 batuan sedimen, 172 batuan metamorf, serta 121 mineral yang memiliki nilai ilmiah tinggi.
“Batuan atau mineral ternyata tidak hanya sebuah benda padat yang bisa kita temukan di alam dengan mudah. Batuan dan mineral ternyata menyimpan rekaman data, rekaman bagaimana bumi kita berproses dan berubah,” ujar Isyqi dalam Webinar Koleksi Ilmiah TakSon Series 23 bertema “Mengenal Koleksi Batuan Metamorf KKI Geodiversitas sebagai Rekaman Perjalanan Lempeng ke dalam Bumi”, seperti dikutip dari CNBC Indonesia.
Proses dan Lingkungan Pembentukan Batuan Metamorf
Batuan metamorf adalah batuan asal yang mengalami perubahan mendasar pada komposisi mineral, tekstur, dan strukturnya akibat proses metamorfisme. Proses pembentukan batuan ini dipicu oleh peningkatan temperatur antara 150 sampai 700 derajat Celcius, tekanan ekstrem dari 0,1 megapascal hingga 6 gigapascal, serta kehadiran fluida aktif seperti air dan karbon dioksida.
Lingkungan geologi tempat batuan metamorf terbentuk meliputi zona subduksi, zona tumbukan antar-benua, intrusi magma panas, punggungan tengah samudra, hingga gelombang kejut dari jatuhnya meteorit ke bumi.
Bukti Geologi Kompleks Melange Luk Ulo
Riset Isyqi berfokus pada bukti geologi dari Kompleks Melange Luk Ulo, Kebumen, yang merekam peristiwa subduksi purba pada Masa Kapur atau sebelum 70 juta tahun lalu. Melalui sampel batuan metamorf seperti filit grafit dan sekis mika, periset dapat merekonstruksi sejarah suhu dan tekanan purba.
“Namun demikian, kita tidak akan melihat batuan-batuan tersebut sebagai benda koleksi saja. Kita akan mencoba mencari tahu cerita apa yang ada di balik batuan-batuan tersebut, terutama tentang perjalanan lempeng ke dalam bumi,” tegas Isyqi.
Analisis menunjukkan batuan filit grafit terbentuk pada tekanan 4 sampai 6 kilobar dan temperatur 340 hingga 380 derajat celsius yang masuk dalam kelompok fasies greenschist. Sementara itu, sampel sekis mika terbentuk pada tekanan 15 hingga 16 kilobar dan temperatur 350 hingga 380 derajat Celsius yang mengonfirmasi keterkaitannya dengan zona subduksi purba.
Isyqi berharap masyarakat dan akademisi memandang batuan tersebut sebagai arsip sejarah alam yang merekam perjalanan lempeng dan dinamika evolusi tektonik Nusantara di masa lalu.







