KEUANGAN

Harga Emas Dunia Anjlok, Pekan Depan Diramal Makin Tertekan

Harga Emas Dunia Anjlok, Pekan Depan Diramal Makin Tertekan

Harga emas dunia diprediksi akan melanjutkan tren pelemahan pada perdagangan pekan depan. Kondisi ini dipicu oleh kenaikan harga energi yang menimbulkan kekhawatiran inflasi serta meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Amerika Serikat dalam pertemuan Federal Reserve.

Tren Penurunan Harga Emas

Berdasarkan laporan Reuters, harga emas turun ke level terendah dalam tiga bulan pada Jumat (23/10). Harga emas spot melemah 0,6 persen menjadi US$ 3.998,35 per ons pada pukul 11.20 EDT (15.20 GMT).

Pelemahan ini membawa harga emas berada di bawah level US$ 4.000 per ons untuk kali pertama sejak pertengahan Juli, dengan harga sempat menyentuh level terendah sesi di US$ 3.975,23 per ons. Sepanjang pekan ini, harga emas spot tercatat turun 4 persen, sedangkan kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Desember ditutup 1,3 persen lebih rendah pada US$ 4.007,90 per ons.

Di sisi lain, harga minyak mentah Brent menyentuh level tertinggi dalam lima bulan terakhir menyusul serangan Houthi di Arab Saudi yang memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi lanjutan.

Analis pasar American Gold Exchange, Jim Wyckoff, menuturkan bahwa meningkatnya kekhawatiran inflasi mengindikasikan bank sentral utama dunia tidak akan mampu melonggarkan kebijakan moneter secepat yang diinginkan. “Meningkatnya kekhawatiran inflasi menunjukkan bahwa bank sentral utama dunia tidak akan mampu melonggarkan kebijakan moneter secepat yang mereka inginkan. Semua itu saat ini merugikan para pelaku pasar emas dan perak,” kata Wyckoff kepada Reuters.

Wyckoff menjelaskan, penurunan tajam saham teknologi memicu margin call bagi pedagang dan investor saham. Situasi tersebut mendorong investor untuk menjual aset emas dan perak guna memenuhi kewajiban tersebut.

Indeks S&P 500 dan Nasdaq turut menyentuh level terendah dalam lima minggu pada Jumat (23/10) akibat sentimen pasar yang tertekan oleh aksi jual tajam saham-saham terkait kecerdasan buatan.

Prospek Kebijakan The Fed dan Logam Lainnya

Pelaku pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan 27-28 Oktober. Meskipun demikian, data inflasi konsumen dan produsen AS yang dirilis pekan lalu melampaui perkiraan, sehingga memperkuat ekspektasi potensi kebijakan moneter yang lebih ketat hingga penghujung tahun ini.

Merujuk pada CME FedWatch Tool, peluang The Fed mempertahankan suku bunga pada pekan depan mencapai 92 persen. Sementara itu, probabilitas kenaikan suku bunga pada Desember diperkirakan sebesar 78 persen.

Laporan belanja konsumsi pribadi AS yang menjadi acuan inflasi pilihan The Fed dan dijadwalkan rilis pada 29 Oktober akan memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter bank sentral tersebut.

Di tengah pelemahan harga secara global, pembelian emas di India meningkat pekan ini karena harga yang lebih rendah selama festival Dussehra mendorong permintaan dan menaikkan premi emas. Adapun permintaan emas fisik di China terpantau relatif stabil.

Untuk logam mulia lainnya, harga perak spot turun 1 persen menjadi US$ 53,97 per ons. Harga paladium melemah 0,5 persen ke US$ 1.048,31 per ons dan menyentuh level terendah sejak Juni 2025, sementara platinum turun 0,9 persen menjadi US$ 1.555,84 per ons yang merupakan level terendah sejak Juli.

Ketiga logam tersebut diperkirakan mencatatkan penurunan secara mingguan.

Mungkin Anda Suka